Palu Diguncang Gempa M6,7, Kerusakan Terjadi di Berbagai Tempat

EDISIINDONESIA.id – Selasa (16/6/2026) pagi ini, masyarakat kota Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya kembali dihentak oleh kepanikan luar biasa. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tersebut. Beberapa kerusakan dilaporkan sudah terjadi di berbagai infrastruktur kota.

Tidak hanya itu, trauma justru kembali terasa. Di media sosial Threads, seorang warga dengan nama akun @liauuud mengekspresikan ketakutannya.

“Tinggal di sesar Palu Koro bikin trauma. Gempa kali ini luar biasa kencang dan lama. Tidak ada aba-aba, langsung disambut guncangan vertikal,” tulisnya sedih.

Ungkapan “guncangan vertikal tanpa aba-aba” ini bukan sekadar kepanikan biasa. Secara geologis, ini adalah bukti nyata betapa agresif dan dekatnya masyarakat Sulawesi Tengah dengan salah satu patahan paling aktif di Indonesia yakni Sesar Palu Koro.

Jejak Sejarah yang Mematikan

Dikutip dari Tutura, sesar Palu Koro bukanlah nama baru dalam memori kolektif warga Utara dan Tengah Sulawesi. Bagi sebagian besar publik, nama ini mungkin baru akrab di telinga pasca-katastrofe 28 September 2018 silam. Kala itu, gempa magnituo 7,4 memicu tsunami 5 meter di Teluk Palu dan likuefaksi mengerikan di Balaroa hingga Petobo yang merenggut lebih dari 4.000 jiwa.

Namun jauh sebelum itu, para geolog dunia sudah gemetar melihat potensinya. Istilah Palu Koro pertama kali diperkenalkan pada tahun 1902-1903 oleh duo naturalis Swiss, Paul dan Karl Sarasin. Ketakutan para peneliti terbukti ketika pada 1 Desember 1927, gempa berkekuatan estimasi magnitudo 7,9 yang bersumber dari sesar ini meluluhlantakkan wilayah antara Palu dan Donggala. Sejak saat itu, setidaknya ada empat gempa raksasa berskala magnitudo 6,1 hingga magnitudo 7,9 yang terus berulang, membuktikan bahwa sesar ini adalah “bom waktu” yang aktif.

Lalu mengapa gempa pagi ini terasa begitu menghentak dan mengerikan? Jawabannya ada pada struktur geologinya. Indonesia berdiri di atas tiga lempeng raksasa yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Benturan mikrokontinen Banggai-Sula jutaan tahun lalu melahirkan Sesar Palu Koro.

Patahan ini tergolong sangat aktif dan membelah daratan sepanjang 500 kilometer. Separuhnya, sekitar 250 kilometer, membelah Kota Palu secara tegak lurus ke arah selatan, mengikuti alur Sungai Palu, melewati Kulawi, Gimpu (di mana nama Sungai Koro berada), hingga berakhir di Teluk Bone.

Sesar ini terbagi menjadi 5 segmen patahan mendatar (strike-slip):

Palu Koro – Timur
Palu Koro – Barat
Palu Koro – Segmen Kulawi
Palu Koro – Segmen Bada-Masamba
Palu Koro – Tanjung Mangkaliat

Ketika energi di zona penunjaman ini terlepas, guncangan mendatar yang dikombinasikan dengan sesar-sesar lokal di sekitarnya (seperti Sesar Parigi Moutong atau Donggala) kerap menciptakan efek guncangan vertikal yang instan dan merusak bagi permukiman yang tepat berada di atasnya.

Gempa magnitudo 6,7 pagi ini justru menjadi alarm keras yang kesekian kalinya. Berdasarkan data Kementerian ESDM, Palu Koro masuk dalam Zona I, kategori patahan aktif di dalam sistem busur yang sangat dinamis. Faktanya, di Sulawesi Tengah tidak hanya ada Palu Koro. Ada sesar naik Batui, sesar mendatar Ampana, hingga sesar Poso yang mengepung wilayah ini.

Trauma yang dirasakan warga Palu yang ada di Threads adalah valid. Gempa pagi ini adalah pesan dari alam bahwa Sesar Palu Koro belum tidur. (edisi/bs)

Comment