EDISIINDONESIA.id – Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyatakan kenaikan harga minyak mentah memberikan tekanan terhadap kurs rupiah.
“Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Lonjakan harga minyak tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit (defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan secara bersamaan) Indonesia, yang pada akhirnya melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik.
Kenaikan harga minyak tersebut ditenggarai akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah terjadi serangan di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Gangguan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kapal tanker minyak harus mengalihkan rute pelayaran melalui Afrika bagian selatan, yang berpotensi semakin mengganggu arus perdagangan global dan rantai pasok energi.
Adanya peningkatan ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global, sehingga mendorong permintaan terhadap dolar AS. (edisi/bs)
Comment