KONAWE, EDISIINDONESIA.id — Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melalui program pengabdian kepada masyarakat terintegrasi KKN Tematik melaksanakan program penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sorue Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten
Kegiatan yang mengusung tema “Model Penguatan UMKM Desa melalui Digitalisasi Usaha Produktif dalam Mendukung Agenda SDGs 1” ini dilaksanakan pada Juli hingga Agustus 2026 dengan melibatkan 20 mahasiswa.
Ketua Tim, Prof. Dr. La Ode Anto, SE., M.Si., Ak., QIA., CA, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku UMKM melalui pemanfaatan teknologi digital, penguatan manajemen usaha, pengembangan produk, pemasaran digital, serta pencatatan keuangan sederhana.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHO ini menilai, Desa Sorue Jaya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, terutama dari sektor perikanan, hasil laut, pengolahan hasil perikanan, kuliner lokal dan perdagangan skala kecil. Potensi tersebut menjadi dasar bagi tim pengabdian UHO untuk mendorong pengembangan usaha produktif masyarakat desa.
“Namun dalam pelaksanaannya ditemukan sejumlah persoalan yang masih dihadapi pelaku UMKM. Di antaranya rendahnya literasi digital, keterbatasan akses pasar, inovasi produk yang masih terbatas, pengelolaan usaha dan pencatatan keuangan yang belum optimal, serta pemasaran produk yang sebagian besar masih mengandalkan pasar lokal,” jelas Prof. Anto, Rabu (26/8/2026).

*Pemetaan Potensi dan Masalah UMKM*
Prof. Anto menjelaskan, pelaksanaan kegiatan tidak langsung diarahkan pada pelatihan, tetapi diawali dengan koordinasi bersama Pemerintah Desa Sorue Jaya, tokoh masyarakat dan pelaku UMKM.
Tim kemudian melakukan survei lapangan untuk mengidentifikasi potensi usaha produktif, jenis produk yang dihasilkan, kondisi pemasaran, tingkat pemanfaatan teknologi digital, hingga kemampuan pelaku usaha dalam mengelola dan mencatat keuangan.
Pemetaan tersebut juga digunakan untuk mengetahui berbagai kendala yang menghambat peningkatan produktivitas dan pendapatan UMKM. Hasil identifikasi selanjutnya menjadi dasar dalam menentukan materi pelatihan dan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
Selain membekali pelaku UMKM, tim juga memberikan pembekalan kepada mahasiswa yang terlibat dalam program KKN Tematik. Materi pembekalan mencakup metode pemberdayaan masyarakat, potensi UMKM desa, digitalisasi usaha produktif, strategi pemasaran digital, pengembangan produk, pencatatan keuangan sederhana hingga teknik pendampingan masyarakat.
“Sebanyak 20 mahasiswa kemudian ditempatkan di Desa Sorue Jaya untuk mendukung pelaksanaan program di lapangan,” ungkapnya.
*Sosialisasi hingga Praktik Digitalisasi*
Disebutnya, tahap berikutnya dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, praktik, pendampingan serta monitoring dan evaluasi. Materi yang diberikan tidak hanya mengenai penggunaan teknologi digital, tetapi juga menyentuh aspek pengelolaan usaha secara menyeluruh.
Prof. Anto menjelaskan, dalam aspek pemasaran, pelaku UMKM diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi sekaligus memperluas jangkauan pasar. Peserta diarahkan untuk menyusun informasi produk secara lebih menarik, menampilkan foto produk yang baik, mencantumkan harga dan informasi kontak, serta menggunakan media sosial secara konsisten.
“Dengan pola tersebut, produk yang sebelumnya hanya dipasarkan di lingkungan sekitar desa diharapkan dapat diperkenalkan kepada konsumen di luar wilayah Desa Sorue Jaya,” jelasnya.
Selain pemasaran, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengelolaan keuangan usaha. Pelaku UMKM diberikan pemahaman mengenai pentingnya memisahkan uang usaha dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka juga diarahkan untuk melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran secara sederhana dan rutin.
“Pencatatan tersebut mencakup pendapatan penjualan, biaya bahan baku, operasional, transportasi serta pengeluaran lain yang berkaitan dengan usaha,” sebut Prof. Anto.
Menurut laporan kegiatan, pencatatan keuangan membantu pelaku usaha mengetahui arus kas, keuntungan serta perkembangan usaha dari waktu ke waktu. Data tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan harga jual, mengevaluasi produk dan menjadi dasar pengambilan keputusan usaha.

*Pengembangan Produk dan Branding*
Prof. Anto menambahkan, program penguatan UMKM juga diarahkan pada pengembangan produk dan branding. Pelaku usaha didorong meningkatkan kualitas kemasan, desain label dan identitas produk agar memiliki daya tarik lebih tinggi.
Ia menerangkan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah produk lokal sehingga UMKM tidak hanya mengandalkan peningkatan volume produksi, tetapi juga memiliki produk yang lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.
“Tim juga merancang pengembangan katalog digital produk UMKM desa sebagai salah satu luaran program. Selain itu, pembentukan kelompok UMKM digital diarahkan menjadi wadah kolaborasi pelaku usaha dalam pengembangan produk dan pemasaran,” pungkasnya.
*Hasil Evaluasi Menunjukkan Peningkatan*
Pelaksanaan program menunjukkan hasil positif berdasarkan evaluasi tingkat pemahaman peserta sebelum dan sesudah kegiatan.
Pemahaman konsep dasar digitalisasi usaha produktif meningkat dari 45 persen menjadi 85 persen atau naik 40 persen. Kemampuan menggunakan media sosial untuk pemasaran produk meningkat dari 40 persen menjadi 85 persen, atau naik 45 persen.
Sementara kemampuan melakukan pencatatan dan pengelolaan keuangan sederhana meningkat dari 35 persen menjadi 80 persen, juga mengalami peningkatan 45 persen. Selanjutnya, pemahaman mengenai pengembangan produk, kemasan dan branding meningkat dari 40 persen menjadi 80 persen atau naik 40 persen.
Adapun pemahaman pemanfaatan marketplace untuk memperluas pasar meningkat dari 30 persen menjadi 75 persen, atau naik 45 persen. Sedangkan pemahaman mengenai keterkaitan pengembangan UMKM dengan SDGs 1 atau No Poverty juga meningkat dari 45 persen menjadi 85 persen.
Secara keseluruhan, rata-rata tingkat pemahaman peserta meningkat dari 39 persen sebelum kegiatan menjadi 82 persen setelah kegiatan. Artinya, terjadi peningkatan sebesar 43 persen.
Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan memberikan peningkatan pemahaman peserta, terutama dalam pemanfaatan media sosial, marketplace dan pencatatan keuangan sederhana.
*Tidak Berhenti Setelah KKN Tematik*
Tim pengabdian UHO juga menempatkan keberlanjutan sebagai bagian penting dari program.
Digitalisasi usaha dinilai membutuhkan proses adaptasi, praktik dan pendampingan yang berkelanjutan. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh pelaku UMKM selama kegiatan diharapkan terus diterapkan setelah program KKN Tematik berakhir.
Strategi keberlanjutan yang dirancang meliputi penguatan kelompok UMKM desa, pembangunan kemitraan dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, Dinas Koperasi dan UMKM, lembaga keuangan serta komunitas digital.
Selain itu, pelaku UMKM diarahkan agar mampu mengelola usaha secara mandiri, termasuk dalam penggunaan media digital, pemasaran, pencatatan keuangan, pengembangan produk dan evaluasi usaha.
Perguruan tinggi bersama pemerintah desa juga diharapkan dapat melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Pendampingan lanjutan dapat difokuskan pada analisis penjualan digital, pengembangan strategi pemasaran, peningkatan kualitas produk, pengelolaan laporan keuangan serta akses terhadap sumber pembiayaan.
*Dorong UMKM Lebih Produktif dan Mandiri*
Program pengabdian UHO tersebut pada akhirnya diarahkan bukan sekadar meningkatkan kemampuan pelaku UMKM menggunakan media digital, tetapi membangun pola usaha yang lebih produktif, terukur dan berkelanjutan.
Melalui pemasaran digital, pelaku usaha memiliki peluang memperluas akses pasar. Sementara pencatatan keuangan dapat membantu mereka memahami kondisi usaha secara lebih objektif.
Dalam laporan akhir, program ini dinilai telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengembangan usaha produktif, pemanfaatan teknologi digital dan pengelolaan usaha yang lebih baik.
Program tersebut juga diharapkan memberikan dampak yang lebih panjang terhadap peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat Desa Sorue Jaya, sekaligus mendukung pencapaian SDGs 1 atau No Poverty melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
*Saran: Pendampingan Harus Berkelanjutan*
Agar hasil program tidak berhenti setelah kegiatan KKN Tematik selesai, keberlanjutan pendampingan menjadi hal yang penting.
Pemerintah Desa Sorue Jaya bersama UHO dan pihak terkait perlu menjaga keberlangsungan kelompok UMKM digital yang telah diarahkan dalam program. Kelompok tersebut dapat menjadi pusat koordinasi, berbagi informasi, pengembangan produk dan pemasaran bersama.
Pelaku UMKM juga perlu didorong untuk konsisten menggunakan media sosial dan marketplace, tidak hanya ketika mendapat pendampingan. Pengelolaan akun bisnis, pembuatan konten, pembaruan informasi produk dan komunikasi dengan konsumen perlu dilakukan secara rutin agar pemasaran digital benar-benar memberikan dampak terhadap penjualan.
Di sisi lain, pencatatan keuangan sederhana perlu menjadi kebiasaan dalam menjalankan usaha. Dengan pencatatan yang tertib, pelaku UMKM dapat mengetahui perkembangan omzet, biaya, keuntungan dan kebutuhan modal secara lebih jelas.
Pemerintah desa juga dapat memperkuat kemitraan dengan Dinas Koperasi dan UMKM, lembaga keuangan, komunitas digital maupun pihak swasta untuk membuka peluang legalitas usaha, akses permodalan, sertifikasi produk, peningkatan kapasitas dan perluasan pasar.
Dengan pendampingan yang dilakukan secara konsisten, digitalisasi tidak berhenti sebagai program pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari aktivitas usaha sehari-hari. Hal ini diharapkan mampu mendorong UMKM Desa Sorue Jaya menjadi lebih produktif, mandiri dan memiliki daya saing, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Dalam laporan akhir, UHO menyebut digitalisasi usaha produktif dapat menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan di tingkat desa.
Ke depan, keberlanjutan program diarahkan melalui penguatan kelembagaan UMKM, kemitraan strategis dengan pemerintah desa dan pihak terkait, kemandirian operasional pelaku usaha, serta pendampingan dan evaluasi secara berkala.
Dengan strategi tersebut, UMKM Desa Sorue Jaya diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan selama program berlangsung, tetapi mampu menerapkan digitalisasi pemasaran, pengelolaan keuangan, pengembangan produk, dan evaluasi usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Untuk diketahui, ketua tim pelaksana kegiatan adalah Prof. Dr. La Ode Anto, SE., M.Si., Ak., QIA., CA, dengan anggota Dr. La Ode Suriadi, Dr. Erwin Hadisantoso, Dr. Nursaban Romy Suleman, dan Muhammad Zaikin. Tim berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHO dengan kompetensi di bidang akuntansi, ekonomi pembangunan, dan manajemen.
Comment