EDISIINDONESIA.id – Ekonom, Berly Martawardaya, menyoroti turunnya alokasi anggaran pendidikan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya, Berly menyoroti komposisi anggaran pendidikan dalam APBN 2026 dan R-APBN 2027.
“Turunnya Anggaran Pendidikan Kami Karena MBG!” tulis Berly dalam unggahannya yang dikutip Senin (17/8).
Mengacu pada data Kementerian Keuangan, Berly memaparkan nominal dan persentase alokasi anggaran untuk fungsi pendidikan dalam APBN 2026 dan R-APBN 2027.
Ia menyebut alokasi fungsi pendidikan dalam R-APBN 2027, setelah dikurangi anggaran MBG sebesar Rp240 triliun, hanya mencapai 14,2 persen dari total belanja negara.
“Secara nominal dan persentase, alokasi untuk fungsi pendidikan di APBN 2026 (setelah adjustment) dan R-APBN 2027 di bawah 2023 dan 2024,” paparnya.
“Proporsi fungsi pendidikan (minus MBG Rp240 T) di R-APBN 2027 hanya 14,2 persen dari belanja,” jelasnya.
Berly juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemenuhan anggaran pendidikan dalam APBN.
Menurutnya, putusan MK masih memperbolehkan alokasi fungsi pendidikan pada 2027 berada di bawah 20 persen sebagaimana amanat konstitusi.
“Memang putusan MK masih bolehkan alokasi fungsi pendidikan di tahun 2027 berada di bawah 20 persen yang dipatok dalam konstitusi,” sambungnya.
Harap Putusan MK Dipatuhi pada APBN 2028
Berly mencatat, alokasi APBN untuk fungsi pendidikan setelah dikurangi anggaran MBG tidak lagi mencapai 20 persen sejak 2025.
“Sejak tahun 2025, alokasi APBN untuk fungsi pendidikan minus MBG tidak lagi capai 20 persen,” ungkapnya.
Karena itu, Berly berharap putusan MK terkait alokasi anggaran pendidikan dapat dipatuhi secara lebih ketat dalam penyusunan APBN 2028.
Ia berharap alokasi anggaran pendidikan dapat kembali mencapai 20 persen dan diikuti dengan peningkatan anggaran untuk kesejahteraan guru serta sejumlah program pendidikan lainnya.
“Moga pada APBN 2028 putusan MK dipatuhi secara ketat dan alokasinya kembali 20 persen dengan kenaikan gaji guru, BOS dan BO-PTN,” harapnya. (edisi/fajar)
Comment