Natalius Pigai Sebut, MBG Dimakan Orang Jahat dan Malaikat yang Tolak Inginkan Kematian

Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai.

EDISIINDONESIA.id- Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan upaya yang luhur dan mulia. Meski mengakui adanya kelemahan dalam tata kelola hingga praktik korupsi, ia menilai kekurangan tersebut seharusnya diperbaiki — bukan dijadikan alasan untuk membatalkan program itu sepenuhnya.

Pernyataan itu disampaikan Pigai saat meresmikan Pusat Studi Hak Asasi Manusia di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Mimika, Kabupaten Papua Tengah, pada Selasa (18/8/2026), sebagaimana dikutip dari akun Instagram-nya @Natalius_Pigai.

“Program Makan Bergizi Gratis memberi makan adalah hal yang mulia,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Pigai menyampaikan bahwa kebutuhan makan adalah hak mendasar yang dimiliki seluruh makhluk hidup, sehingga tidak ada pihak yang wajar menolak pemberian makanan.

“Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang menolak dan menentang makan. Orang jahat juga makan, malaikat pun makan. Jadi, orang yang menolak makan sama dengan orang yang menginginkan kematian. Sebab tanpa makanan, sudah pasti seseorang akan binasa,” paparnya.

Dari situlah, ia memandang pemberian makanan melalui MBG sebagai wujud tanggung jawab negara kepada rakyatnya.

“Siapakah yang memberi makan? Seorang ayah kepada anak-anaknya. Dan ‘ayah’ kita semua adalah Negara Republik Indonesia, yang dipimpin Bapak Prabowo Subianto. Beliau memberi makan kepada anak-anaknya, yaitu seluruh warga negara Indonesia yang berhak dan layak menerimanya,” jelas Pigai.

Namun demikian, ia secara terbuka mengakui masih terdapat sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program tersebut.

“Saya sadar sepenuhnya, tata kelola belum sepenuhnya baik. Ada praktik korupsi? Ada. Manajemennya belum tertata sempurna? Memang demikian kenyataannya,” akunya.

Meski begitu, ia menegaskan kelemahan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan program secara keseluruhan.

“Apakah karena ada kekurangan lalu kita hapus saja program pemberian makan? Jika demikian, itu sama artinya kita menerima kematian,” tegasnya.

Oleh karena itu, Pigai mengajak seluruh elemen masyarakat memperbaiki hal-hal yang masih kurang, dan tetap mendukung niat luhur program tersebut.

“Cita-cita Bapak Prabowo Subianto untuk memberi makan kepada bangsanya adalah niat yang mulia dan luhur. Kekurangannya perbaiki, bukan dibatalkan,” pungkasnya.(edisi/fajar)

Comment