LPS: Gen Z Paling Rentan Terjerat Taruhan Olahraga, 52% Alihkan Dana Investasi ke Judol

EDISIINDONESIA.id— Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan tingkat literasi keuangan pada Generasi Z, yaitu kelompok yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012, masih perlu ditingkatkan secara serius. Kelompok ini dinilai sebagai salah satu yang paling rentan terjerat praktik perjudian daring, termasuk taruhan olahraga atau sport betting.

Hal tersebut disampaikan Direktur Grup Tata Kelola, Risiko & Kepatuhan II LPS, Nicolas Silalahi, dalam acara seminar Campus to Community yang diselenggarakan LPS bekerja sama dengan Warta Ekonomi di lingkungan Universitas Pamulang (Unpam), Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Data yang dihimpun LPS menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: sebagian besar Gen Z bahkan telah mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk investasi ke aktivitas taruhan olahraga.

“Dari data kami, Gen Z memang kelompok yang paling rentan. Bahkan, 52 persen di antaranya pernah mengalihkan dana investasinya ke sport betting. Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, hanya 26 persen yang menganggap taruhan olahraga sebagai semacam strategi keuangan jangka panjang,” ungkap Nicolas.

Kondisi ini, lanjutnya, menandakan adanya kesenjangan pemahaman yang mendasar di kalangan masyarakat mengenai perbedaan antara aktivitas perjudian dan kegiatan investasi. Ketidakjelasan batas inilah yang membuat sebagian Gen Z keliru memandang taruhan sebagai cara sah untuk mengelola atau melipatgandakan uang.

“Temuan ini memperlihatkan betapa kaburnya batas antara judi dan investasi. Padahal perbedaannya sangat jelas: judi dilarang, sementara investasi didasari analisis, berbadan hukum, dan produknya terdaftar serta terawasi,” tegasnya.

Senada dengan hal itu, Rektor Universitas Pamulang, Nurzaman, menjelaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan adalah keterampilan penting yang wajib ditanamkan sejak dini. Ia memaparkan empat pilar dasar literasi keuangan yang dapat dijadikan panduan agar seseorang mampu mengelola keuangan dengan bijak: memperoleh pendapatan, mengatur pengeluaran, menabung, dan berbagi.

“Setelah uang diperoleh, perhatikan cara membelanjakannya: utamakan kebutuhan, bukan keinginan, agar tercipta keseimbangan antara penghasilan dan pengeluaran. Ketiga, menabung untuk masa depan, sekecil apa pun nilainya. Dan yang terakhir, jangan lupa kewajiban berbagi seperti membayar pajak, bersedekah, dan beramal,” paparnya
.
Perencana Keuangan Independen, Andy Nugroho, juga menegaskan bahwa perjudian tidak dapat disamakan dengan investasi sebagai sarana melipatgandakan kekayaan. Ia membagikan rumus sederhana agar arus keuangan tetap sehat dan terhindar dari jebakan instrumen keuangan yang tidak jelas:

“Berikut salah satu metodenya: 40 persen untuk pengeluaran harian, utang maksimal 30 persen, 20 persen untuk tabungan dan investasi, serta sisanya 10 persen untuk amal dan bantuan sosial,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan IFG Life, Gatot Haryadi, mengingatkan peran penting asuransi dalam manajemen risiko keuangan. Ia mencontohkan perlindungan yang disediakan oleh asuransi sosial seperti BPJS Kesehatan.

“Alih-alih menanggung sendiri risiko yang besar — misalnya biaya pemasangan cincin jantung senilai Rp60 juta — jauh lebih bijak menyisihkan sedikit uang untuk premi guna melindungi diri jika sesuatu terjadi. Intinya, bersiaplah menghadapi risiko sebelum risiko itu datang,” pungkasnya.(edisi/rmol)

Comment