KENDARI, EDISIINDONESIA.id– Polemik di masyarakat Desa Uepai, Kabupaten Konawe, terkait boikot kegiatan ground breaking pabrik penggilingan gabah terbesar di Indonesia Timur telah menarik perhatian Kadin Kota Kendari.
Sebab, Ketua Kadin Kendari sendiri adalah inisiator yang mengajak pengusaha beras asal Sidrap untuk berinvestasi di Sulawesi Tenggara sejak tahun 2024.
Prosesnya tidak mudah—selama lebih dari setahun, Ketua Kadin melakukan lobi dengan kunjungan ke Sidrap dan telepon bulanan untuk meyakinkan investor, dengan mempertimbangkan aspek sosial dan political will pemerintah terkait regulasi.
Menurutnya, hadirnya pabrik ini akan meningkatkan pendapatan petani yang sering dirugikan tengkulak. Contohnya, harga gabah Sultra tahun ini hanya rata-rata Rp5.300/kg (langsung petani), jauh di bawah Sulsel yang mencapai Rp6.800/kg—disebabkan kurangnya pabrik dan gudang, sementara Bulog hanya mampu menyerap 30% hasil panen akibat keterbatasan kapasitas drayer.
“Dengan lebih banyak pabrik, kualitas dan harga gabah akan stabil, bahkan Sultra berpotensi menjadi lumbung dan eksportir beras,” ungkapnya.
Dia menekankan bahwa investor adalah anak bangsa, bukan asing, dan bertanya, “Apakah kita mau negara lain yang bangun pabrik di daerah kita?”
Investor juga telah berkomitmen berkolaborasi dengan pengusaha lokal, memprioritaskan tenaga kerja lokal 80-90% mulai dari pembangunan hingga produksi, serta menggunakan merk yang identik dengan daerah. Kadin Kendari akan mengawali semua janji tersebut.
“Kadin akan terus mendorong investasi dengan kaidah benar, mengedepankan kearifan lokal dan kolaborasi. Jika ingin daerah maju, hilangkan kebiasaan yang membuat investor trauma,” tutup Fadli.(**)
Comment