EDISIINDONESIA.id – Sejarawan Anhar Gonggong merefleksikan Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dia menyoroti bagaimana penyelewengan aturan terus berlangsung.
“Hukum kita masih lemah, salah satu yang susah menyelesaikannya. Hukum kita masih lemah. Pelaksanaannya masih lemah,” kata Anhar, dikutip dari YouTube Anhar Gonggong Official, Senin (1/5/2026).
Di sisi lain, menurutnya, masyarakat Indonesia sebenarnya sangat Pancasilais, terlihat dari kehidupan sehari-hari mereka.
“Masyarakatnya, menurut saya, sebagian masyarakat kita Pancasilais. Tapi tanpa mereka ngobrol Pancasila, kehidupan sehari-hari mereka justru boleh dikatakan Pancasilais,” ucap Anhar.
Anhar memberi gambaran, seperti masyarakat yang tetap membayar pajak di tengah naiknya harga barang-barang.
“Disuruh bayar pajak dibayar. Kenaikan harga diterima, walaupun mengeluh,” ujar Anhar.
Lebih jauh, ketika pejabat melakukan korupsi, dia menyebut sebenarnya masyarakat tahu. Hanya saja, mereka tidak punya kekuatan untuk bertindak.
“Saya melihatnya, ada hal tertentu memang masyarakat lakukan pembiaran. Seperti terjadinya korupsi. Masyarakat tahu kok bahwa pegawai negeri itu korup. Tapi mereka tidak punya kekuatan apa-apa,” imbuh Anhar.
Meski pada praktiknya, belakangan ini warga mulai menggunakan media sosial untuk bertindak.
“Itu terjadi. Ada sesuatu persoalan, viral. Baru berbenah. Di sinilah perlunya diperhatikan media sosial, teknologi, dan lain sebagainya,” ucap Anhar.
Sementara itu, masyarakat dinilainya menunjukkan nilai Pancasila. Meski tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud sebagai nilai Pancasila, menurutnya hal itu bisa dilihat dari masyarakat yang tidak protes saat terdampak sesuatu.
“Kalau masyarakatnya menurut saya, contoh sederhana, setelah mereka terdampak beberapa hal, tidak ribut. Justru orang lain ribut. Dia terima kenyataan dirinya,” paparnya.
“Tapi ada namanya pemerintah, orang kaya, itu yang diharapkan mereka lakukan bantuan, dan itu yang dilakukan. Mau Anda katakan apa, puas atau tidak puas. Rumah sementara dibuat, itu fakta,” sambung Anhar.
Para pejabat yang korup, dinilainya bukan tidak tahu aturan. Hanya saja, tidak tahu bersyukur.
“Perbaikan pelaksanaannya harus diperbaiki. Aturannya mereka ngerti kok. Orang korup itu bukan tidak tahu aturan. Justru sangat tahu. Tapi kan, dasarnya tidak tahu syukur. Sudah kaya masih mau mencuri,” pungkas Anhar. (edisi/fajar)
Comment