Mengkaji Makna Kemerdekaan dalam Perspektif Islam, UMKendari dan PWM Sultra Gelar Pengajian

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Universitas Muhammadiyah Kendari (UMKendari), melalui Direktorat Pengkajian dan Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tenggara, menyelenggarakan pengajian bertema “Kemerdekaan dalam Perspektif Islam”.

Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, serta unsur dari organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah di lingkungan kampus.

Pengajian ini digelar sebagai bagian dari refleksi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, dengan mengangkat makna kemerdekaan yang lebih mendalam dari perspektif Islam Berkemajuan.

Hadir sebagai narasumber, Dr. H. Muhammad Ikhsan AR., M.Ag, Ia menegaskan bahwa dalam Islam, kemerdekaan berarti kebebasan dari penghambaan kepada selain Allah. “Islam menolak segala bentuk kultus individu. Ketika manusia menggantungkan hidup dan kehormatan dirinya pada makhluk atau kekuasaan duniawi, maka ia belum merdeka secara teologis. Kemerdekaan sejati adalah saat manusia hanya tunduk kepada Allah SWT,” ujar Iksan.

Kemerdekaan juga bermakna pembebasan dari belenggu penindasan dan ketidakadilan sosial. Dalam hal ini, ia merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 193: “Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya untuk Allah semata.”

Iksan menafsirkan bahwa “fitnah” dalam ayat tersebut dapat dimaknai sebagai segala bentuk kekacauan, kezaliman, dan penindasan struktural yang menghilangkan kebebasan dan harga diri manusia.

Ia menekankan bahwa kemerdekaan mencakup kebebasan dari tahayyul, bid’ah, dan churafat (TBC), serta dari sistem feodalisme dan struktur kasta sosial yang tidak adil.

“Dalam Persyarikatan Muhammadiyah, kesadaran akan pentingnya pembebasan ini sudah muncul sejak awal. Kita tercerahkan oleh semangat untuk memanusiakan manusia secara utuh,” ujarnya.

Dr. Iksan juga menyinggung konsep persaudaraan kosmik, yaitu pandangan bahwa manusia bersaudara dengan alam sekitarnya. Dalam konteks ini, ia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan.

“Sayangnya, kita hari ini lebih banyak melakukan eksploitasi daripada eksplorasi terhadap alam kita,” kata Dr. Iksan.

Ia menekankan bahwa sikap ini berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis yang berkelanjutan dan tentunya alam akan bereaksi dengan hal tersebut.

Pengajian ini menjadi momen reflektif bagi sivitas akademika UMKendari untuk memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Melalui forum ini, UMKendari menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi tentang membebaskan manusia secara utuh, secara spiritual, sosial, dan ekologis.(**)

Comment