EDISIINDONESIA.com – Sejumlah negara di dunia memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia imbas serangan ke Ukraina.
Negara-negara yang memberikan sanksi, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, dan Jepang.
Namun sanksi ekonomi yang dijatuhkan, ternyata ikut menyengsarakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di negeri beruang putih tersebut.
WNI yang saat ini berada di Rusia yang kebanyakan adalah Mahasiswa, mengeluhkan tidak bisa mengambil uang di ATM, sehingga mereka kesulitan untuk melakukan transaksi.
Tak hanya itu, harga-harga bahan pokok di Rusia juga saat ini sudah mulai meroket.
Seperti dikutip dari video singkat di akun Instagram @warungjurnalis.
Seorang mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Rusia, Rima Desi Milenia, menuturkan dalam video tersebut bahwa mesin-mesin ATM di Rusia saat ini tidak berfungsi.
“Halo semua, sekarang aku akan pergi ke mesin ATM yang ada di Kota Moscow, karena dari kemarin sudah mencoba tiga mesin ATM tetapi tetap tidak bisa digunakan untuk pencairan uang dari ATM Indonesia yang berlogo Visa dan Mastercard,” ungkap Rima dalam video produksi VOA tersebut.
Rima juga menuturkan, sejak beberapa hari lalu setelah serangan Rusia ke Ukraina dimulai, ia kesulitan untuk mengakses sosial media seperti Facebook, Instagram serta Twitter.
“Bahkan twitter dari tiga hari lalu sudah tidak bisa dibuka,” tutur Rima.
Rima tak seorang diri, mahasiswi Indonesia lainnya yang berada di Rusia, Nabila Agia juga mengeluhkan hal lain sebagai dampak dari embargo ekonomi terhadap Rusia.
“Harga makanan juga naik. Harganya tidak cukup tinggi, tapi harganya cukup untuk merusakkan kantong mahasiswa kami,” ungkap Nabila dalam video yang sama.
Ia mencontohkan, harga satu kotak telur ayam yang semula 70 rubel, saat ini harganya naik hingga 85-95 rubel.
Bahkan pada Minggu 27 Februari 2022 kemarin, juga terjadi protes anti perang oleh warga Rusia di kota-kota besar seperti Moscow dan Saint Petersburg.
Sanksi keuangan yang dijatuhkan negara-negara- Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), hingga Jepang, Singapura- kepada Rusia mulai terasa. Hal ini dibuktikan dengan kejatuhan mata uang rubel dan juga kenaikan suku bunga yang tinggi.
Pada perdagangan Senin 28 Februari 2022 waktu setempat, mata uang rubel terus tergerus bila dibandingkan dengan dollar Amerika Serikat (AS).
Bahkan, rubel dilaporkan ambruk hingga 30 persen terhadap dollar dan secara year-on-year (yoy), ditutup dengan pelemahan hingga 28 persen terhadap dollar. (**)
Comment