KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim penghujan di Sulawesi Tenggara (Sultra) akan terjadi pada Maret-Juni 2024.
Akan tetapi Kepala BMKG Sultra, Sugeng Widarko mengatakan peningkatan curah hujan sudah mulai terjadi pada Februari ini.
Dimana, berdasarkan prakiraan, musim penghujan yang akan terjadi nanti sifatnya di atas normal atau curah hujannya akan berlebih dari biasanya, sehingga perlu diwaspadai.
Sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan, agar ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti bencana, bisa langsung bergerak dan tidak panik.
“Ada esar yang perlu diwaspadai yaitu Sesar naik Tolo. Walaupun sesar inj berada di Sulawesi Tengah (Sulteng), tetapi sesar ini lewatnya bisa sampai sebelah Timur Sulawesi Tenggara, daerah yang paling dekat yakni Konawe Utara (Konut),” bebernya.
“Sesar ini potensi gempanya sangat besar, yakni 7,4 SR, sehingga perlu di waspadai. Masyarakat perlu tahu daerah tersebut rawan gempa bumi,” tambahnya.
Selain itu, terdapat pula sesar Lawanopo, yang memiliki potensi gempa 7,5 SR. Sesar tersebut berada di daratan, sehingga jauh lebih berbahaya dan dampaknya jauh lebih merusak dari pada yang di laut.
Sesar Lawanopo membentang dari Kolaka Utara hingga mendekati Kendari. Lalu, ada pula sesar di kepulauan yakni Sesar Buton A, yang terletak di pesisir bagian Timur Pulau Muna.
Serta sesar Buton B, yang terletak di Pantai sebelah Barat Pulau Buton, khusunya daerah Buton Selatan, Kota Baubau hingga di daratan Buton.
“Ini juga perlu diperhatikan karena potensi gempanya bisa mencapai 6,2 SR untuk sesar Buton A, sedangkan sesar Buton B bisa mencapai 7,1 SR,” tutupnya. (**)
Comment