EDISIINDONESIA.id- Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengajak Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk tetap aktif dan berperan penting di tengah arus perkembangan digital serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan nasionalisme kebangsaan.
Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri Retreat PWI 2026 yang diikuti 160 peserta di Pusat Komunikasi Bela Negara, Rumpin, Bogor, pada Sabtu (31/1/2026).
Menurut Sjafrie, insan pers saat ini dihadapkan pada dua hal besar yang harus diatasi bersama pemerintah, yaitu digitalisasi dan persoalan nasionalisme kebangsaan.
“Untuk mengatasi dua tantangan tersebut, Pemerintah sangat membutuhkan peran positif pers sebagai mitra,” ucapnya.
Sjafrie juga mengingatkan bahwa upaya Presiden Prabowo untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat menghadapi tantangan berat, dengan ancaman dari dalam dan luar negeri yang terus mengincar kekayaan alam Indonesia.
Sebagai contoh, ia menyebutkan kerja Satgas Penertiban Hutan yang telah berhasil menghentikan aktivitas penyelundupan di Maluku dan beberapa daerah lainnya.
“Sekarang ini kita lupa bahwa kita perlu menjaga kedaulatan negara, baik di bidang politik maupun ekonomi,” katanya.
Menurutnya, persoalan penyelundupan bukan hal sepele. Sjafrie menyoroti berbagai kasus yang melibatkan komoditas seperti timah, sawit, dan hasil tambang lainnya sejak era reformasi. Ia menyebut ada “permainan kotor” yang menyebabkan kebocoran anggaran fantastis hingga mencapai Rp5.770 triliun.
Dalam konteks era perang opini saat ini, Sjafrie menegaskan bahwa pers Indonesia khususnya PWI tidak boleh “meninggalkan gelanggang”. Ia menggambarkan kondisi saat ini di mana orang yang bekerja tulus dan berniat baik justru sering dipandang negatif, sehingga PWI dituntut untuk menjamin bahwa opini publik disampaikan secara benar dan bertanggung jawab.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus melakukan langkah verifikasi, klarifikasi, hingga penertiban. Jika langkah administratif tidak efektif, maka akan dilakukan penegakan hukum.
Intinya, pers diharapkan menjadi mitra yang solid, terutama di ranah digital yang penuh dengan persaingan narasi dan opini. (edisi/Fajar)
Comment