KENDARI, EDISIINDONESIA.id– Aktivitas pembangunan galangan kapal di Desa Lapuko, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, kini menjadi perhatian serius Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara.
Anggota dewan menilai perubahan fungsi lahan di kawasan itu telah merusak lingkungan secara nyata dan mencabut sumber penghidupan warga setempat, khususnya para nelayan.
Berdasarkan hasil peninjauan langsung yang dilakukan, Drs. H. Abdul Halik, anggota Komisi III DPRD Sultra dari Fraksi PBB untuk daerah pemilihan Konawe Selatan–Bombana, mengungkapkan bahwa setidaknya ada tujuh perusahaan galangan kapal yang beroperasi di wilayah tersebut. Ia menyayangkan kondisi kawasan yang kini berubah drastis dibandingkan masa lalu.
Menurutnya, lokasi yang kini dipakai sebagai kawasan industri dulunya merupakan hutan bakau yang dijaga dan dilestarikan dengan baik. Kawasan itu memiliki peran ganda yang sangat penting: sebagai penyangga ekosistem pantai sekaligus sebagai tempat mencari nafkah utama bagi masyarakat sekitar.
“Dulu seluruh wilayah ini adalah hutan mangrove yang dilindungi. Teluk ini adalah rumah bagi para nelayan dan menjadi tempat tangkapan ikan utama mereka. Sekarang keadaannya sudah berubah total,” ujar Abdul Halik.
Ia mencontohkan, bangunan penangkap ikan tradisional yang biasa terlihat di permukaan laut kini sudah tidak berfungsi lagi karena lingkungannya berubah. Hutan bakau yang dulu rindang dan berfungsi melindungi pantai, kini berubah status dan dimanfaatkan sebagai lahan pembangunan. Bahkan, ia menuding seolah-olah tanah di kawasan lindung itu diperjualbelikan untuk kepentingan industri.
Melihat fakta tersebut, Abdul Halik menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam. Komisi III berencana memanggil seluruh pengelola galangan kapal yang ada di lokasi itu untuk dimintai keterangan secara resmi.
“Kami akan memanggil mereka satu per satu untuk mempertanyakan bagaimana proses pelepasan lahan tersebut bisa terjadi. Kami juga akan meneliti apakah mereka memiliki izin resmi untuk melakukan penimbunan laut, karena hampir seluruh kawasan pesisir di sana kini sudah tertimbun tanah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dampak kerusakan yang terjadi sangat besar. Kawasan yang dulunya menjadi tempat berkembang biak berbagai biota laut kini sudah rusak parah bahkan nyaris punah akibat aktivitas tersebut.
Akibatnya, para nelayan setempat kehilangan tempat mencari ikan dan secara otomatis kehilangan mata pencaharian mereka.(**)
Comment