Konten Kreator Ini Beberkan Perbedaan Program MBG di Indonesia dengan China

EDISIINDONESIA.id – Perbandingan mendalam antara program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia dan China mengungkap perbedaan strategi yang signifikan dalam penyaluran anggaran serta target penerima manfaatnya.

Seorang konten kreator dengan akun Instagram @husnaafhh memberikan analisis tentang bagaimana kedua negara menjalankan program tersebut, yang berdampak pada efektivitas dan fokus penggunaan dana.

Perbedaan Fokus dan Target Program MBG

Indonesia menjalankan program MBG secara universal, menargetkan semua sekolah negeri dan swasta tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi siswa. Program yang dimulai sejak 31 Januari 2025 ini telah menyerap anggaran sebesar Rp 36,6 triliun hingga 21 Februari 2026.

Sementara itu, China mengalokasikan dana sebesar Rp 367 triliun untuk program MBG yang telah berjalan selama 10 tahun sejak 2011. Namun, program MBG di China tidak bersifat universal melainkan hanya diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu dan menderita gizi buruk, terutama yang tinggal di pedesaan dan berasal dari keluarga petani, pekerja migran, serta kelompok kurang sejahtera.

Efektivitas dan Penggunaan Anggaran MBG China

“367 triliun rupiah sudah dihabiskan oleh pemerintah China untuk dana MBG. Tapi, ini bukan dalam satu tahun, melainkan selama 10 tahun. Di China, sudah ada program MBG yang dimulai sejak tahun 2011 dan itu, mereka melaksanakannya secara bertahap dengan memfokuskan pada anak kelaparan dan gizi buruk,” katanya Jumat (27/2/2026).

Data menunjukkan bahwa dari sekitar 293 juta pelajar di China, hanya sekitar 13 persen atau 37 juta siswa yang menerima manfaat MBG pada tahun 2020-2021 dengan biaya Rp 83 triliun per tahun. Pemerintah China fokus pada anak-anak yang rentan miskin dan sulit mengakses makanan bergizi.

“Total siswa di China itu sekitar 293 juta jiwa berdasarkan data yang saya peroleh. Artinya, hanya sekitar 13% anak sekolah di China yang menerima program MBG, makan bergizi gratis, makan siang gratis di sekolah,” jelasnya.

Pelajaran dari China untuk Program MBG Indonesia

Setelah evaluasi, program MBG di China terbukti membawa manfaat signifikan dalam pertumbuhan dan peningkatan kualitas gizi anak-anak yang menjadi sasaran. Keberhasilan ini menjadi contoh penting bagi pemerintah Indonesia dalam mengelola program MBG agar lebih efisien dan terfokus, serta menghindari tudingan pemborosan anggaran atau pengurangan dana pendidikan.

“Dari sini kita harusnya belajar untuk… Kalau kita ingin mencontoh sebuah keberhasilan program dari negara lain, kita juga memperhatikan bagaimana strategi negara lain dalam menjalankan program tersebut. Bahkan China yang sudah lebih dari 10 tahun mengadakan program MBG, mereka tidak pernah mentargetkan untuk universal atau membuat seluruh siswa menerima MBG,” terangnya.

Dengan mengadopsi sistem yang menargetkan kelompok rentan seperti di China, pemerintah Indonesia dapat mengalihkan sebagian dana MBG ke sektor atau proyek lain yang juga penting.

“Karena mereka tahu, kalau mereka memfokuskan pada yang tertarget, pada mereka yang di pedesaan, pada mereka yang di daerah rentan miskin atau rentan akan gizi buruk, ini akan lebih terfokus, sehingga dananya bisa dialihkan untuk kegiatan atau untuk proyek lainnya,” pungkasnya. (edisi/fajar)

Comment