MUNA, EDISIINDONESIA.id – Kejadian dugaan kekerasan oleh kakak kelas terhadap juniornya, beberapa hari lalu di SDN 3 Batalaiworu, yang terletak di desa Wawesa, Kecamatan Batalaiworu, menjadi viral secara nasional.
Atas kejadian itu, korban yang merupakan siswa kelas 3 tersebut harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Baharuddin Raha.
Menanggapi hal tersebut, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Muna telah ke SDN 3 Batalaiworu untuk melakukan penelusuran dan langkah-langkah terbaik untuk kedua belah pihak, agar masalah ini tidak berkembang.
Sekretaris Dikbud Muna, Karim Darma mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran, ada tindakan berkelahi dari dua orang siswa, dimana salah satunya yang masuk RSUD.
“Kronologinya memang anak-anak ini berkelahinya dihari Kamis pekan lalu, setelah kejadian itu masih fit, kemudian hari Jum’at anak itu tidak masuk sekolah, nanti hari Sabtu baru ditau oleh wali kelas, kalau anak ini sakit dan masuk RS, dijenguklah oleh pihak sekolah. Pihak Diknas juga sudah mengunjungi anak itu di RS,” terang Karim, Jumat (1/8/2025).
Ia mengungkapkan, Kemarin pihak kepolisian telah memanggil anak kelas 4, yang melakukan kekerasan itu dan Kepsek.
“Menyikapi itu, Dikbud meminta kepada PGRI Kabupaten untuk memberikan pendampingan terhadap Kepsek. Dan telah berkoordinasi dengan Dinas Perlindungan Anak untuk memberikan pendampingan dan advokasi terhadap anak itu, supaya psikologi sang anak tidak terganggu,” bebernya.
Selain itu, Pihak Dikbud juga meminta Kepsek terus lakukan pendekatan terhadap orang tua anak yang kena musibah (korban).
“Yah begnilah dinamika anak-anak, mungkin sedang bermain bersama, kumpul-kumpul, lalu terjadilah hal-hal demikian yang tidak ada pihak manapun yang menginginkan kejadian seperti ini,” ujar Sekretaris Dikbud Muna.
Dengan kejadian di SDN 3 Batalaiworu, Dikbud Muna telah memberikan teguran keras terhadap kepsek serta wewanti-wanti untuk mengaktifkan kembali tim pencegahan dan penanggulangan kekerasan di satuan pendidikan, yang terbentuk ditahun sebelumnya.
“Kami berharap anak ini segera sembuh dan tidak meninggalkan trauma. Ini adalah musibah yang tidak direncanakan, anak-anak ini aktivitasnya disekolah sangat tinggi,” imbuhnya.
Ia juga berharap semua pihak bisa menahan diri, seyogyanya masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan, kalau menempuh jalur hukum tentu ada masalah baru.
“Saya kira harapan kita semua tidak ada lagi kejadian kekerasan ataupun bully dilingkungan satuan pendidikan. Ini menjadi atensi semua warga sekolah baik itu SD dan SMP. Semoga kejadian ini untuk terakhir kalinya.” Tegasnya. (**)
Comment