AS Bombardir 5 Kapal Tanker Minyak Iran di Kawasan Teluk

EDISIINDONESIA.id – Lima kapal tanker minyak Iran menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.

Serangan tersebut terjadi setelah Garda Revolusi Iran dua kali meluncurkan rudal balistik ke kapal perang AS dalam dua hari terakhir.

Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui unggahan di media sosial X, Rabu 9 September 2026, mengatakan kapal perang Amerika berhasil menghindari serangan tersebut dan tidak ada personel AS yang terluka.

Dalam serangan balasan, pasukan AS menghantam empat kapal tanker di Teluk Oman, yakni M/T Kaviz, M/T Charminar, M/T Horizon 1, dan M/T Riesco. Satu kapal lainnya, M/T Derya, diserang di dekat Pulau Kharg.

CENTCOM menyebut serangan dilakukan setelah awak kapal diperintahkan untuk meninggalkan kapal.

“Pasukan Amerika memerintahkan para awak kapal untuk meninggalkan kapal sebelum kapal-kapal tersebut terkena serangan dan menjadi tidak dapat beroperasi,” kata CENTCOM.

Serangan tersebut menambah daftar kapal tanker Iran yang dihantam militer AS. Pada Sabtu, AS sebelumnya menghancurkan tiga kapal tanker Iran sebagai respons atas serangan rudal balistik Garda Revolusi Iran terhadap sebuah kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali AS.

CENTCOM menyatakan serangan Iran tersebut gagal dan tidak menimbulkan korban di pihak Amerika.

Eskalasi terjadi ketika hubungan AS dan Iran kembali memanas di kawasan Teluk Persia. Kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir, seiring perubahan strategi pemerintahan Presiden Donald Trump yang meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Ketegangan juga meluas ke teknologi tanpa awak. Garda Revolusi Iran sebelumnya mengklaim menangkap drone bawah air milik militer AS di pintu masuk Selat Hormuz.

Namun, AS membantah drone tersebut merupakan teknologi militer canggih. Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins mengatakan kendaraan itu merupakan model lama yang mengalami kerusakan dan tidak membawa data sensitif.

“Drone yang rusak itu adalah model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan sonar atau radar rahasia,” kata Hawkins.

Menurut Hawkins, drone tersebut digunakan untuk melakukan survei perairan regional guna mendukung operasi AS. Ia menegaskan operasi Amerika di kawasan tersebut tetap berlangsung. (edisi/rmol)

Comment