Kepala SMAN 1 Wadaga Bantah Dugaan Pungutan, Dua Guru Paruh Waktu Tegaskan Tak Pernah Dimintai Uang

MUBAR, EDISIINDONESIA.id – Kepala SMA Negeri 1 Wadaga, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai dugaan permintaan sejumlah uang kepada guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu yang dikaitkan dengan proses pengumpulan berkas Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM).

Kepala sekolah dengan tegas membantah adanya permintaan uang kepada guru P3K Paruh Waktu. Ia memastikan tidak pernah meminta sejumlah uang sebagaimana yang diberitakan sebelumnya.

“Semua tuduhan seperti yang diberitakan itu tidak benar. Mengenai pengantaran berkas SPTJM, memang mereka memberikan uang atas inisiatif mereka sendiri dan tanpa saya minta. Mereka mengatakan itu untuk transportasi saya,” pungkasnya dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, pemberian tersebut bukanlah pungutan ataupun permintaan dari dirinya, melainkan murni inisiatif sejumlah guru yang dilakukan setelah mereka menerima gaji di Kendari.

Bantah Pernah Meminta Uang

Kepsek kembali membantah tudingan bahwa dirinya meminta uang kepada guru P3K Paruh Waktu setelah mereka menerima gaji di Kendari.

Ia mengatakan, sejumlah guru justru datang atas inisiatif sendiri dengan alasan ingin menyampaikan rasa terima kasih kepadanya. Namun, pemberian tersebut sempat ditolaknya.

“Tuduhan mengenai permintaan sejumlah uang itu tidak benar. Bahkan setelah mereka pulang dari menerima gajinya di Kendari, memang ada beberapa teman yang datang dan ada yang punya inisiatif untuk menemui saya dengan alasan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada saya. Namun saya menolak,” katanya.

Kepsek menyebut empat guru berinisial R, D, I dan H pernah berinisiatif menemuinya.

Menurutnya, keempat guru tersebut sempat hendak masuk ke ruangannya. Namun, ia melarang mereka masuk dan meminta agar segera mengikuti rapat karena saat itu kebetulan sedang berlangsung agenda rapat di ruang dewan guru.

“Keempatnya berinisiatif untuk menemui saya dan ingin masuk ke ruangan saya, namun saya larang. Saya katakan mari kita segera ikut rapat saja karena kebetulan saat itu ada agenda rapat di ruang dewan guru,” ungkapnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Kepsek mengaku kembali bertemu dengan keempat guru tersebut ketika hendak pulang.

“Ternyata setelah saya mau balik ke rumah, saya kaget keempat orang tersebut menyegat mobil saya. Spontan saya bertanya ada apa. Mereka dengan wajah penuh permohonan menyampaikan dengan penuh ketulusan keinginannya kepada saya untuk memberikan sesuatu sebagai ungkapan terima kasih,” tuturnya.

Namun, kepsek mengaku tetap menolak pemberian tersebut. Meski demikian, keempat guru itu disebut terus memaksa hingga akhirnya pemberian tersebut disimpan di dalam mobilnya.

“Akhirnya saya katakan, apa yang kalian kasih ini atas inisiatif kalian sendiri dan saya tidak pernah meminta itu. Jangan sampai saya rusak gara-gara pemberian ini,” tegasnya.

Lebih lanjut Kepsek menambahkan, jika dirinya memang memiliki niat untuk menerima uang dari guru P3K Paruh Waktu, menurutnya tidak ada alasan untuk menolak ketika mereka sebelumnya berinisiatif menemuinya di ruangannya.

“Kalau memang ada niat saya mau menerima uang dari paruh waktu itu, buat apa saya menolak mereka ketika ada inisiatif untuk menemui saya di ruangan saya? Apalagi ruangan saya tertutup. Tetapi mereka tetap menunggu saya sampai pulang dan kemudian mencegat saya di dalam mobil,” jelasnya.

Bantah Transfer Rp10 Juta

Selain dugaan permintaan uang, kepsek juga membantah informasi mengenai adanya bukti transfer sebesar Rp10 juta yang disebut berkaitan dengan guru P3K Paruh Waktu.

Menurutnya, informasi tersebut sama sekali tidak benar karena dirinya mengaku tidak pernah menerima uang sebesar Rp10 juta dari guru P3K Paruh Waktu.

“Katanya ada bukti transfer Rp10 juta, itu sama sekali tidak benar. Buktinya mana dan siapa yang transfer? Kalau saya tidak pernah diberi uang sebanyak itu, apalagi dari paruh waktu,” tegasnya.

Kepsek bahkan mempersilakan agar informasi tersebut dikonfirmasi langsung kepada para guru P3K Paruh Waktu di SMAN 1 Wadaga.

“Bisa ditanya kepada paruh waktu di Wadaga, apakah benar ada yang mentransfer uang sebanyak itu atau ada yang saya minta uangnya. Silakan tanya mereka,” ujarnya.

Ia meminta agar setiap tuduhan maupun informasi mengenai dugaan pemberian uang dapat dibuktikan secara jelas sehingga tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.

Dua Guru Paruh Waktu Beri Klarifikasi

Klarifikasi Kepala Sekolah tersebut juga diperkuat oleh dua guru P3K Paruh Waktu SMAN 1 Wadaga yang berinisial L dan R. Keduanya secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak pernah dimintai uang oleh kepala sekolah, baik dalam proses pengumpulan berkas SPTJM maupun setelah menerima gaji.

Guru berinisial L mengatakan, dirinya tidak pernah merasa dimintai uang oleh kepala sekolah.

“Saya adalah salah satu guru paruh waktu yang berinisial L seperti dalam pemberitaan di media. Saya ingin mengklarifikasi bahwa berita mengenai permintaan uang oleh Kepala SMAN 1 Wadaga tersebut tidak benar. Saya tidak pernah dimintai uang oleh kepala sekolah,” ujar L.

L juga membenarkan adanya grup WhatsApp khusus bagi pegawai paruh waktu, baik guru maupun tenaga kependidikan. Namun, menurutnya, grup tersebut dibuat untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi.

“Kepala sekolah memang membuat grup untuk semua paruh waktu, baik guru maupun tendik. Pembuatan grup ini untuk komunikasi semua paruh waktu di SMA 1 Wadaga,” jelasnya.

Menurut L, dirinya justru memiliki inisiatif sendiri untuk memberikan sesuatu kepada kepala sekolah sebagai bentuk ucapan terima kasih.

“Sekali lagi, saya tidak pernah merasa dimintai uang oleh kepala sekolah. Malahan saya sendiri yang berinisiatif untuk memberikan sebagai bentuk ucapan terima kasih,” katanya.

Ia menceritakan, dirinya bersama tiga rekannya sempat hendak menemui kepala sekolah di ruangannya. Namun, kepala sekolah menolak dan meminta mereka mengikuti agenda rapat yang sedang berlangsung.

“Kami hendak masuk ke ruangannya, tetapi kepala sekolah menolak. Kami tetap menunggu sampai beliau hendak pulang. Saat kepala sekolah masuk ke mobilnya, kami berusaha mengejar dan menghentikan mobilnya,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai maksud mereka menghentikan mobil, L mengaku menyampaikan bahwa mereka ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih.

“Ibu kepala sekolah bertanya, ada apa? Kami jawab ingin memberikan sebagai ucapan terima kasih. Tetapi kepala sekolah masih menolak dan berkata, ‘Kerja saja baik-baik’,” ungkapnya.

Meski telah ditolak, L bersama tiga rekannya tetap bersikeras memberikan pemberian tersebut sebagai bentuk rasa terima kasih.

“Tetapi saya dan tiga teman lainnya tetap mengotot dan memaksakan untuk memberikan itu sebagai bentuk rasa terima kasih. Itu pun jumlah yang kami berikan tidak seberapa,” tegasnya.

L juga membantah adanya transfer uang dengan nominal Rp10 juta.

“Tidak ada di antara kami yang mentransfer, apalagi dengan nominal Rp10 juta,” katanya.

Guru R Tegaskan Hal Serupa

Hal senada disampaikan guru P3K Paruh Waktu berinisial R. Ia juga membantah pernah dimintai uang oleh Kepala SMAN 1 Wadaga dalam proses pengumpulan berkas SPTJM.

“Saya adalah salah satu guru paruh waktu berinisial R seperti dalam pemberitaan di media. Saya ingin mengklarifikasi tentang berita permintaan uang oleh Kepala SMAN 1 Wadaga. Berita tersebut tidak benar. Saya tidak pernah dimintai uang oleh kepala sekolah,” ujar R.

R menegaskan, kepala sekolah tidak pernah meminta uang kepadanya dalam kaitannya dengan proses pengumpulan berkas SPTJM.

“Berkaitan dengan proses pengumpulan SPTJM, kepala sekolah SMA 1 Wadaga tidak pernah meminta uang kepada saya,” tegasnya.

Ia juga membenarkan bahwa grup WhatsApp untuk seluruh pegawai paruh waktu dibuat sebagai sarana komunikasi dan koordinasi di lingkungan sekolah.

“Kepala sekolah memang membuat grup untuk semua paruh waktu, baik guru maupun tendik. Pembuatan grup ini untuk komunikasi semua paruh waktu di SMA 1 Wadaga,” jelas R.

R mengatakan, pemberian tersebut merupakan inisiatif dirinya bersama tiga rekannya sebagai bentuk ucapan terima kasih.

“Sekali lagi, saya tidak pernah merasa dimintai uang oleh kepala sekolah. Justru saya sendiri yang berinisiatif memberikan sebagai bentuk ucapan terima kasih,” katanya.

Menurut R, dirinya bersama tiga guru lainnya sempat hendak menemui kepala sekolah di ruangannya. Namun, mereka tidak masuk karena kepala sekolah menolak dan meminta mereka mengikuti agenda rapat.

“Kami hendak masuk ke ruangannya, tetapi kepala sekolah menolak. Kami tetap menunggu sampai jam pulang. Saat kepala sekolah masuk ke mobil, kami berusaha mengejar untuk menghentikan mobilnya,” ungkapnya.

R mengatakan, kepala sekolah kembali menolak ketika mereka menyampaikan maksud ingin memberikan sesuatu.

“Kepala sekolah bertanya kenapa kami menahan beliau. Kami jawab ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Tetapi kepala sekolah masih menolak dan berkata, ‘Kerja saja baik-baik’,” tuturnya.

Namun, R bersama tiga rekannya tetap memaksakan pemberian tersebut.

“Tetapi saya bersama tiga teman lainnya tetap mengotot dan memaksakan untuk memberikan itu sebagai bentuk rasa terima kasih. Itu pun jumlahnya tidak seberapa dan tidak sesuai dengan pemberitaan yang beredar,” tegasnya.

R juga memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan transfer uang kepada kepala sekolah, terlebih dengan nominal Rp10 juta.

“Tidak ada di antara kami yang mentransfer uang, apalagi dengan nominal Rp10 juta,” pungkasnya.

Dengan adanya klarifikasi dari Kepala SMAN 1 Wadaga serta dua guru P3K Paruh Waktu tersebut, mereka berharap informasi yang beredar sebelumnya dapat diluruskan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.(**)

Comment