SPPG Maginti Klarifikasi Dugaan Makanan Berulat di MBG, Tegaskan Belum Ada Bukti Berasal dari Dapur

MUBAR, EDISIINDONESIA.id – Beredarnya video yang diduga memperlihatkan makanan berulat dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Maginti, Kabupaten Muna Barat (Mubar), mendapat tanggapan dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Maginti.

Pihak SPPG menegaskan hingga saat ini belum terdapat bukti yang memastikan bahwa makanan yang diduga berulat tersebut berasal dari dapur MBG di Desa Pajala, Kecamatan Maginti. Saat ini, proses penelusuran masih dilakukan bersama Badan Gizi Nasional (BGN).

Kepala SPPG Maginti, Abdurahman Ali, mengatakan seluruh bahan baku, khususnya daging ayam, telah melalui prosedur pemeriksaan yang ketat sebelum diolah dan didistribusikan kepada para penerima manfaat.

Menurutnya, apabila memang terdapat kelalaian dalam proses pengolahan di dapur MBG, kejadian serupa seharusnya sudah berulang selama kurang lebih lima bulan dapur tersebut beroperasi.

“Kalau memang dari kami ada kesalahan, harusnya selama lima bulan terakhir sudah banyak masalah seperti ini. Faktanya selama ini tidak pernah terjadi. Bahkan staf dan relawan kami sebelum makanan dibagikan juga ikut mengonsumsi makanan yang sama,” ujar Abdurahman, Selasa (28/7/2026).

Pemeriksaan Bahan Baku Dilakukan Ketat

Abdurahman menjelaskan, ayam yang diterima dari pemasok sudah dalam bentuk potongan agar lebih mudah diperiksa secara menyeluruh. Pihaknya memastikan hanya menerima bahan baku yang memenuhi standar kelayakan konsumsi.

“Kami tidak menerima daging yang sudah berwarna kebiruan. Kami memang meminta ayam dalam bentuk potongan supaya serat-serat dagingnya bisa kami periksa satu per satu. Sejauh ini kami pastikan tidak ada yang seperti itu,” katanya.

Ia menambahkan, pemeriksaan sampel yang dilakukan sebelum makanan didistribusikan juga tidak menemukan adanya ulat pada daging ayam.

“Alhamdulillah, dari setiap sampel pemeriksaan tidak ada ditemukan ulat. Kalau memang ayam itu berulat sejak awal, seharusnya bukan hanya satu potong, tetapi kemungkinan banyak potongan lain juga mengalami hal yang sama. Itu tidak kami temukan,” jelasnya.

Proses Pengolahan Sesuai SOP

Menurut Abdurahman, seluruh tahapan pengolahan makanan di dapur MBG dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Ayam yang diterima dari pemasok paling lambat pukul 19.00 WITA langsung dibersihkan tanpa disimpan dalam waktu lama. Proses pembersihan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam karena jumlah ayam yang diolah setiap hari mencapai lebih dari 2.000 potong.

Seluruh kulit, urat, serta bagian yang tidak layak konsumsi dipisahkan sebelum daging dimarinasi selama sekitar 15 hingga 25 menit. Setelah itu, daging diisolasi agar tidak terkontaminasi sebelum memasuki tahap pemasakan.

“Setelah dibersihkan, ayam kami marinasi sekitar 15 sampai 25 menit, kemudian kami isolasi agar tidak terkontaminasi. Setelah itu ayam dimasak hingga matang, lalu dilanjutkan dengan proses penggorengan. Jadi prosesnya dua kali. Karena itu kami juga heran kalau disebut ada ulat. Secara logika, apabila memang ada ulat sejak awal, seharusnya sudah mati dalam proses pemasakan dengan suhu tinggi,” ungkapnya.

Quality Control Diperketat

Sebagai bentuk evaluasi atas video yang viral di media sosial, SPPG Maginti mengaku telah memperketat sistem quality control pada setiap tahapan produksi, terutama dalam pemeriksaan serat daging ayam sebelum dimasak.

“Setelah kejadian di beberapa dapur MBG sebelumnya, saya sudah menerapkan pemeriksaan lebih detail pada bagian serat daging, terutama yang berkaitan dengan urat dan tulang. Sekarang pengawasan kami perketat lagi agar kualitas makanan benar-benar terjaga,” ujarnya.

Abdurahman juga menjelaskan bahwa makanan yang telah selesai dimasak tidak disimpan terlalu lama. Seluruh menu langsung dikemas dan didistribusikan secara bertahap sesuai jenjang pendidikan.

Distribusi dimulai untuk TK dan PAUD sekitar pukul 07.30 WITA hingga pukul 08.00 WITA. Selanjutnya makanan dikirim ke SD dan SMP, kemudian terakhir ke SMA sekitar pukul 10.00 WITA.

“Penyalurannya dilakukan bertahap. Setelah makanan selesai dimasak, langsung kami kemas dan distribusikan sehingga kualitas serta kesegarannya tetap terjaga,” terangnya.

BGN Masih Lakukan Penelusuran

Terkait video yang beredar di media sosial, Abdurahman mengatakan Badan Gizi Nasional hingga kini masih melakukan penelusuran sehingga belum dapat dipastikan asal makanan yang diduga berulat tersebut.

“Kami masih menunggu arahan dari BGN. Saat ini kami juga masih menelusuri apakah benar berasal dari dapur kami atau tidak. Yang pasti kami terus melakukan pembenahan dan memperketat pengawasan,” tegasnya.

Sekolah: Selama Lima Bulan Tidak Pernah Ada Keluhan

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Maginti, Paulus Juang, menyampaikan bahwa selama kurang lebih lima bulan Program Makan Bergizi Gratis berjalan di sekolahnya, pihak sekolah belum pernah menerima keluhan terkait kualitas makanan yang disalurkan.

“Sejak dapur MBG di Pajala mulai beroperasi sekitar lima bulan lalu, yang kami rasakan semuanya berjalan lancar. Makanan selalu datang tepat waktu dan menu-menu yang disajikan juga bagus,” katanya.

Paulus berharap proses penelusuran yang dilakukan pihak terkait dapat segera menghasilkan kejelasan sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh, akurat, dan berimbang.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum hasil penelusuran resmi dari instansi berwenang diumumkan.

Hingga berita ini diterbitkan, proses penelusuran oleh Badan Gizi Nasional masih berlangsung. Belum ada kesimpulan resmi yang menyatakan bahwa makanan yang diduga berulat dalam video tersebut berasal dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pajala, Kecamatan Maginti.(**)

Comment