UEFA Dikecam: Desakan Larang Israel dari Kompetisi Eropa Menguat!

EDISIINDONESIA.id– Desakan agar UEFA mengeluarkan Israel dari kompetisi sepak bola Eropa semakin kuat dalam beberapa hari terakhir.

Pemicunya adalah penampilan anak-anak Gaza dalam upacara pembukaan UEFA Super Cup antara Tottenham Hotspur melawan Paris Saint-Germain di Blue Energy Stadium, Udine, Italia, pekan lalu.

Diundang oleh UEFA Foundation for Children, anak-anak tersebut mengibarkan spanduk bertuliskan “stop killing children-stop killing civilians” sebagai seruan mengakhiri perang.

Tala (12 tahun), salah satu peserta, harus dievakuasi ke Milan akibat runtuhnya sistem kesehatan di Gaza. Mohammed (9 tahun), yang kehilangan kedua orang tuanya akibat serangan udara Israel, kini dirawat di Italia bersama neneknya.

UNICEF mencatat, lebih dari 50 ribu anak di Gaza tewas atau terluka sejak Oktober 2023.

Namun, pernyataan UEFA dinilai terlalu samar dan tidak menyebut Israel secara langsung, memicu kecaman publik.

“Kenapa tim Israel masih boleh main di kompetisi UEFA? UEFA ini benar-benar munafik,” tulis seorang pengguna X, seperti dikutip dari New Arab, Senin, 18 Agustus 2025.

Pengguna lain menambahkan, “Tidak ada kata Israel, tidak ada kecaman. Padahal Israel sudah seharusnya dilarang sejak lama. UEFA hanya memamerkan dua anak Palestina, sementara mereka tak berani menyebut pelakunya.”

Kritik juga muncul setelah UEFA mengunggah video anak-anak Gaza bersama Presiden UEFA Aleksander Čeferin, tanpa penjelasan lebih jauh.

“Bagaimana mereka bisa jadi pengungsi? Jelaskan siapa yang menyebabkan ini. UEFA harus berani menyebut Israel,” ujar seorang warganet.

Kontroversi semakin panas setelah UEFA menyampaikan pernyataan soal kematian bintang sepak bola Gaza, Suleiman al-Obeid, tanpa menyinggung bahwa ia ditembak mati oleh pasukan Israel pada 6 Agustus lalu.

Bintang Liverpool Mohamed Salah bahkan menegur UEFA melalui X, dengan menulis: “Bisa jelaskan bagaimana dia meninggal, di mana, dan kenapa?”

Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) menyatakan al-Obeid, yang dijuluki “Pele Palestina”, ditembak mati saat menunggu bantuan kemanusiaan di Gaza selatan.

“Dalam kariernya, ia mencetak lebih dari 100 gol dan menjadi inspirasi bagi anak-anak Palestina,” ujar PFA.

Data PFA juga menyebutkan, sejak Oktober 2023 sedikitnya 662 atlet Palestina dan keluarganya terbunuh, serta 288 fasilitas olahraga hancur akibat bombardir Israel, termasuk 268 di Gaza.(edisi/rmol)

Comment