KENDARI, EDISIINDONESIA.id — Misi Presiden Jokowi mengurangi stunting guna mencetak generasi emas memang patut digalakkan, termasuk di Kendari Sulawesi Tenggara.
Presiden Jokowi menegaskan bahwa target penurunan angka gagal tumbuh atau stunting sebesar 14 persen harus dapat dicapai pada tahun 2024 mendatang
Menurut Presiden, stunting masih menjadi masalah besar yang harus segera diselesaikan di Tanah Air. Apalagi stunting dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia sebuah negara, bukan hanya berdampak kepada kondisi fisik anak, melainkan juga kesehatan hingga kemampuan berpikir anak.
“Dampak stunting ini bukan hanya urusan tinggi badan, tetapi yang paling berbahaya adalah nanti rendah kemampuan anak untuk belajar, keterbelakangan mental, dan yang ketiga munculnya penyakit-penyakit kronis yang gampang masuk ke tubuh anak,” jelas Presiden.
Presiden pun meyakini target tersebut dapat dicapai jika semua pihak bekerja sama dalam mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia. Saat ini, angka stunting di Indonesia telah mengalami penurunan dari 37 persen pada tahun 2014 menjadi 21,6 persen di tahun 2022.
Saat ini ada banyak penyebab stunting yang patut diketahui sehingga dapat dihindari guna mencegah risiko anak terkena stunting.
Apa saja itu berikut ulasannya:
- Gizi buruk pada anak
Ibu perlu catat, bahwa 1.000 hari pertama sejak bayi lahir merupakan waktu terpenting untuk memberikan asupan gizi untuk tumbuh kembang yang baik.
Nah, bayi dan anak yang stunting berpotensi memiliki riwayat gizi buruk karena tidak terpenuhinya kandungan gizi utama, seperti karbohidrat, lemak protein, vitamin, mineral, zat besi, yodium, dan zink.
- Faktor infeksi penyakit
Malnutrisi akibat stunting ini memang bermula dari tidak terpenuhinya gizi baik pada anak, sehingga anak kesulitan membentuk metabolisme untuk daya tahan tubuh.
Akibatnya, bayi dan anak mudah terserang infeksi penyakit. Dalam jangka pendek, anak akan mudah terserang penyakit pencernaan, misalnya diare yang bisa tertular dari lingkungan tertentu. Akan tetapi, studi medis menemukan bahwa anak dengan kondisi stunting berisiko menderita penyakit degeneratif dan penyakit tidak tertular lainnya, seperti diabetes hingga gangguan jantung.
- Pola makan yang tidak tepat
Penyebab stunting yang paling utama adalah pemberian pola makan anak yang tidak sesuai anjuran, sehingga dapat menghambat pertumbuhan fisik dan motorik anak. Dengan hambatan tertentu, orang tua bisa memberikan makanan tidak bergizi. Misalnya, pemberian susu kental manis pada balita yang mengandung gula tinggi, hingga makanan cepat saji seperti fast food dan makanan instan. - Faktor sosial dan ekonomi negara atau wilayah tertentu
Kemiskinan menjadi penyebab utama mengapa angka stunting pada anak di sebuah negara meningkat, terutama negara berkembang.
Negara berkembang masih terbatas dalam memberikan fasilitas untuk menunjang hidup sehat kepada masyarakat miskin. Misalnya, akses edukasi dan perawatan kesehatan ibu hamil, serta balita dan anak. Hal ini menyebabkan ibu hamil tidak memiliki perencanaan kehamilan yang baik, memberikan pola makan secara minim atau berlebihan kepada anak, dan pengaruh besar kepada cara pola asuh orang tua kepada anak.
- Faktor kebersihan dan sanitasi air
Lingkungan yang kotor dan sanitasi air yang buruk juga menjadi penyebab stunting yang banyak orang tua tidak sadari. Pasalnya, lingkungan sekitar yang tidak bersih dan air yang kotor tentunya terinfeksi dengan bakteri yang membuat anak menjadi mudah terkena penyakit. Air yang kotor tersebut juga digunakan untuk membersihkan makanan dan air minum, yang menghambat pertumbuhan fisik anak.
Ditambah lagi, lingkungan sekitar rumah yang tidak terawat juga menghambat proses belajar anak.
- Faktor ibu hamil yang kekurangan gizi
Penyebab lain stunting juga bisa dipicu oleh ibu hamil itu sendiri. Apabila ibu hamil mengalami malnutrisi yang cukup parah, atau kerap mengonsumsi nutrisi yang tidak dianjurkan untuk proses pertumbuhan janin, maka bayi berisiko tinggi untuk kekurangan gizi yang menghambat pertumbuhan.
Untuk menjawab pertanyaan seputar stunting, Sahabat MIKA dapat menonton Bincang Sehat MIKA bersama dr. Martini, Sp.A dari Mitra Keluarga Kemayoran.
Cara Mencegah Stunting
Stunting tidak dapat disembuhkan dengan cepat, namun stunting dapat dicegah selama masa ibu sebelum hamil, misalnya pada saat remaja.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memberikan tips dan cara mencegah stunting bagi keluarga, termasuk ibu dan si kecil, untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas dengan ABCD.
- Aktif konsumsi tablet penambah darah
Bagi perempuan remaja dan dewasa yang sudah mulai datang bulan, wajib untuk mengonsumsi tablet penambah darah agar terhindar dari anemia. Kekurangan darah atau anemia akan mempengaruhi jumlah hemoglobin (HB) ibu hamil dan janin itu sendiri.
Anjuran minum tablet tambah darah bagi perempuan:
Perempuan remaja: 1 tablet tambah darah untuk 1 minggu sekali.
Ibu hamil: Dalam minimal 90 hari kehamilan, wajib minum 1 tablet sehari.
- Bumil wajib periksa kehamilan sebanyak 6 kali
Antenatal care (ANC) merupakan pemeriksaan bagi ibu hamil untuk memastikan kesehatan ibu dan perkembangan janin ke dokter spesialis kandungan sebanyak 6 kali, dengan 2 kali potret USG untuk melihat kondisi janin lebih lanjut.
Masing-masing waktu untuk melakukan antenatal care adalah sebagai berikut:
Trimester 1: 1 kali kunjungan pemeriksaan.
Trimester 2: 1 kali kunjungan pemeriksaan.
Trimester 3: 2 kali kunjungan pemeriksaan.
Masa menuju kelahiran: 2 kali kunjungan pemeriksaan.
3.Datang ke Posyandu
Posyandu merupakan pusat kesehatan yang tersebar hingga pedesaan agar masyarakat mendapatkan akses edukasi dan perawatan kesehatan, termasuk kesehatan ibu hamil dan anak. Di Posyandu, terdapat program untuk pengecekan kondisi fisik anak, mulai dari pengukuran berat dan tinggi badan, imunisasi, penyuluhan seputar gizi dan ASI, atau indikasi penyakit pada ibu dan anak.
Dibantu oleh dokter dan perawat, ibu akan mendapat Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk pencatatan pengukuran dari waktu ke waktu.
- Eksklusif ASI 6 bulan
Selain imunisasi dan makanan yang bergizi, bayi dari usia 0-2 tahun wajib diberikan ASI eksklusif untuk pemenuhan nutrisi pendukung. Namun, nutrisi ibu juga perlu diperhatikan, ya! Ibu perlu untuk menjaga gizi dan nutrisi dari apa yang dikonsumsi. - Cukupi kebutuhan protein hewani
Protein hewani sangat direkomendasikan untuk memenuhi gizi anak agar tidak kekurangan gizi. Bagi bayi di atas 6 bulan dengan tanda-tanda malnutrisi atau sudah memasuki stunting, protein hewani dapat diberikan, meskipun bayi sedang fokus untuk pemberian ASI Eksklusif. (**)
Comment