KENDARI,EDISIINDONESIA.id – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat adanya pergeseran pola penyebaran kasus HIV/AIDS yang cukup signifikan. Jika sebelumnya kasus didominasi oleh perempuan pekerja seks komersial, tren terbaru justru menunjukkan peningkatan tajam di kalangan kelompok homoseksual.
Kepala Dinas Kesehatan Sultra, Andi Edy Surahmat, menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026). Menurutnya, meskipun wilayah dengan kasus tertinggi masih terpusat di Kota Kendari dan Kota Baubau, namun komposisi kelompok yang terinfeksi kini berbeda.
“Dari 17 kabupaten/kota, kasus tertinggi ada di Kota Kendari dan Kota Baubau. Dulu didominasi perempuan pekerja seks, tetapi berdasarkan data terbaru justru didominasi oleh homoseksual,” ujarnya.
123 Kasus Tercatat di Triwulan Pertama
Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 saja, tercatat sebanyak 123 kasus baru HIV/AIDS di wilayah Sultra.
Melihat tren ini, Edy menekankan pentingnya penanganan yang cepat dan tepat agar kasus tidak berkembang menjadi fenomena “gunung es”, di mana jumlah kasus yang tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
“Ke depan, kami minta tim program di Dinkes untuk mengupayakan agar kasus ini tidak menjadi seperti gunung es. Harus ada pendekatan dan edukasi yang lebih intens,” tegasnya.
Strategi Pendekatan Diubah
Karena karakteristik kelompok terdampak berubah, strategi penyuluhan dan pencegahan pun harus disesuaikan. Jika dulu faktor ekonomi menjadi pemicu utama pada kelompok pekerja seks, kini pendekatan harus lebih menyentuh aspek perilaku dan pemahaman kesehatan.
“Kalau pekerja seks mungkin karena faktor ekonomi. Tetapi untuk penyimpangan seksual, ini bukan lagi soal ekonomi. Maka pendekatan yang kami lakukan melalui sosialisasi bahaya penyakit hingga pendekatan keagamaan,” jelasnya.
Saat ini, Dinkes Sultra juga tengah mematangkan metode skrining yang lebih efektif untuk menjangkau kelompok berisiko. Tujuannya agar deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat sehingga penularan dapat segera diputus.
Pemerintah daerah berharap dengan strategi yang lebih adaptif dan menyeluruh ini, angka penyebaran HIV/AIDS di Sultra dapat ditekan dan tidak menjadi masalah kesehatan publik yang lebih luas di masa depan.(**)
Comment