BOMBANA, EDISIINDONESIA.id- Pemerintah kabupaten Bombana terus berupaya menurunkan angka stuting, di tahun 2022 saat ini angkat stuting mengalami penurunan di banding tahu-tahun sebelumnya.
Berdasarkan tabel dari dinas kesehatan Kabupaten Bombana, terlihat bahwa kasus stunting mengalami perkembangan yang fluktuati baik dari sisi jumlah kasus maupun prevalensi dari tahun 2020 hinggatahun 2022, dimana pada tahun 2020 terjadi sebanyak 1.546 kasus atau 23,7 % menjadi 1.637 kasus atau 24,6% pada tahun 2021. Sedangkan pada tahun 2022 terjadi penurunan secara persentase menjadi 20,3%, namun secara kasus terjadi peningkatan sebesar 1.670 kasus. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan jumlah balita yang diukur di bulan agustus pada setiap tahun berjalan, dimana jumlah kunjungan balita atau D/S (partisipasi masyarakat) di bulan agustus 2022 ini mencakup 50% dari total sasaran balita.

Kepala bidang kesehatan masyarakat seksi kesehatan keluarga dan gizi masyarakat kabupaten Bombana, Fatmiati Rinambo mengatakan
Masih tingginya angka stunting di Kabupaten Bombana ini tentu menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah dan seluruh stakeholders maupun dunia usaha,
“Untuk terus melakukan langka-langkah kongkrit dan inovasi dalam melakukan aksi konvergensi penanganan stunting. Kegiatan konvergensi tersebut dilakukan dalam 8 Aksi Konvergensi Stunting dalam rangka percepatan pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Bombana,” kata Fatmiati melalui pesan rilisnya, Kamis (29/12/2022).
GRAFIK PREVALENSI STUNTING MENURUT DI KABUPATEN BOMBANA
TAHUN 2020-2022

Fatmiati menjelaskan, grafik stuting menunjukkan perkembangan prevalensi stunting menurut kecamatan di Kabupaten Bombana selama periode tahun 2020 hingga 2022. Dimana pada tahun 2020 terlihat bahwa kecamatan yang memiliki angka prevalensi stunting terbesar adalah kecamatan Rarowatu Utara sebesar 52,3% dan paling rendah adalah kecamatan Kabaena Timur yang mencapai sebesar 0,0 %. Tahun 2021 prevalensi stunting terbesar adalah kecamatan Kabaena Utara dengan capaian sebesar 54,6% dan paling rendah adalah kecamatan rumbia tengah yang mencapai sebesar 4,5%.
“Sedangkan capaian prevalensi stunting menurut kecamatan pada tahun 2022 dengan capaian angka stunting tertinggi adalah kecamatan Matausu yang mencapai sebesar 45,4% dan terendah adalah kecamatan poleang selatan sebesar 0% dengan asumsi D/S (partisipasi masyarakat) mencapai 50%. Sebaran angka prevalensi stunting menurut kecamatan menunjukkan bahwa kecamatan mana saja yang memberikan kontribusi besar terhadap pencapaian angka stunting di kabupaten bombana setiap tahunnya sehingga perlu adanya upaya identifikasi permasalahan dan menentukan intervensi serius pada kecamatan tersebut,’ ucapanya.
Selain itu, kata Fatmiati bahwa hingga 2022 capaian angka stunting tertinggi untuk semua kecamatan mengalami penurunan dimana kecamatan dengan tingkat pervalens itertinggi sebesar 52,3% pada tahun 2020 dan tahun 2022 hanya tinggal 45,4%, yang diikuti dengan penurunan angka stunting pada Sebagian besar kecamatan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya keberhasilan dalam upaya penurunan angka stunting di kabupaten bombana hingga mencapai 20,3% pada tahun 2022.
“Kegiatan intervensi dilakukan secara konvergen dengan melibatkan seluruh perangkat daerah mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan hingga ke tingkat keluarga dalam upaya untuk menurunkan angka stunting,” tandasnya.
Fatmiati menyebut, untuk menurunkan stuting di kabupaten Bombana pemerintah melakukan berbagai kegiatan, antara lain kegiatan pencegahan melalui perbaikan gizi pada 1000 HPK berupa intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan pada ibu hamil yang kekurangan energy kronis menggunakan makanan tambahan berbahan lokal dan makanan pabrikan, peningkatan layanan pada ibu hamil melalui kunjungan kerumah untuk melakukan pemeriksaan dan memberikan edukasi terkait menjaga kesehatan ibu dan bayi minimal 6 kali selama masa kehamilan, pemberian tablet tambah darah, pemberian makanan tambahan pada balita gizi kurang, melakukan penyuluhan / konseling / pendampingan pada ibu hamil dan balita yang bermasalah gizi, pemberian vitamin dan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.
“Selain itu juga dilakukan pemeriksaan dan pendampingan pranikah kepada calon pengantin terkait kesiapan menikah dan memiliki anak oleh petugas Kesehatan dan penyuluh KB ditiap Kecamatan. Di tingkat Kabupaten dilakukan beberapa pelatihan atau peningkatan kapasitas petugas seperti pelatihan ANC terstandar, pelatihan PMBA, dan adanya konselor,’ tandasnya.
Ia menambahakan, sedangkan kegiatan intervensi sensitive yang telah dilakukan seperti memastikan akses air bersih dan sanitasi yang baik, edukasi/konseling pada calon pengantin, menyediakan akses kelayanan kesehatan dan keluarga berencana, memberikan pendidikan pengasuhan pada orang tua, serta memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi pada remaja dan juga pemberian tablet tambah darah pada remaja putri.
Gambaran kondisi stunting di Kabupaten Bombana
A. Faktor Determinan yang memerlukanperhatian

Faktor yang masih menjadi kendala dalam penurunan stunting tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Dari tabel diatas terlihat bahwa faktor determinan terbesar yang menjadi pencetus terjadinya stunting di Kabupaten Bombana adalah adanya kebiasaan merokok yaitu sebanyak 827 orang, dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Poleang Barat yaitu sebanyak 250 orang. Faktor determinan terbesar kedua adalah masih terdapatnya sebanyak 265 orang yang belum memiliki jamban Sehat, dan yang tertinggi ada di Kecamatan Poleang Barat yaitu sebanyak 265 orang. Faktor determinan lainnya adalah masih terdapatnya sebanyak 228 anak karena infeksi Kecacingan, 124 orang yang bermasalah dalam hal ketersediaan air bersih, , masih terdapatnya sebanyak 120 Keluarga yang belum Kartu JKN, 58 Orang dengan riwayat ibu hamil KEK dan 48 anak dengan riwayat penyakit penyerta.
B. Perilaku kunci RT 1000 HPK yang masih bermasalah
Terdapat beberapa perilaku kunci yang membutuhkan perhatian yaitu Praktek Pemberian ASI eksklusif yang hanya 16, 7 % ( Sumber: e-PPGBM Bulan Agustus 2022 ) , perilaku merokok orang tua stunting yang masih tinggi, asupan makanan yang kurang pada balita, pola asuh yang kurang, riwayat KEK pada masa hamil . Selain itu masih perlunya pemantauan pemberian dan konsumsi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri juga perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal tersebut masih membutuhkan intervensi dan pembinaan secara konvergensi dan berkelanjutan.
C. Kelompok sasaran beresiko
Beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa salah satu factor yang berpengaruh pada kejadian stunting adalah kondisi ibu saat hamil dan melahirkan. Kondisi ibu saat hamil dan melahirkan berpengaruh pada kejadian stunting ,antara lain terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu sering (4 Terlalu), anemia dan kekurangan energy kronik, serta penyakit yang diderita ibu saat hamil. Oleh karena itu, diperlukan sebuah Tindakan untuk mempersiapkan ibu hamil dan melakukan pendampingan selama hamil dan pasca persalinan sehingga jika terdapat masalah yang tidak diinginkan akan terdeteksi secara dini untuk segera mendapatkan penanganan.(**)
Comment