Begini Terawangan Indigo Tigor Otadan Soal Nasib Indonesia Setelah Pindah ke IKN Baru

Desain eksterior yang bakal menjadi Istana Kepresidenan di Ibu Kota Negara Nusantara di Kalimantan Timur, Selasa (4/1/2022). - Instagram@jokowi

EDISIINDONESIA.com – Indigo asal Kediri, Jawa Timur, yakni Tigor Otadan, kembali mengungkap terawangannya ke publik.

Terawangan barunya mengenai nasib Indonesia ke depan setelah pindah ke Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam terawangannya, Tigor menyebut Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Kejayaan Indonesia akan terjadi pada 2032 atau 10 tahun lagi.

Tak hanya itu. Tigor Otadan juga menyebut akan banyak orang yang sukses di IKN baru nanti.

“Indonesia akan cerah tahun 2032. Sepuluh tahun lagi,” kata Tigor Otadan spemindahan eperti dikutip FIN dari chanel YouTube Makrifat TV pada Kamis (31/3/2022.

Menurut Tigor Otadan, keputusan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Kaltim sangat tepat.

Dia menyatakan orang yang mempermasalahkan pemindahan Ibu Kota tersebut tidak paham.

“Banyak orang kerja di Kalimantan nanti sukses. Apa yang dipermasalahkan? Banyak orang komentar negatif karena tidak paham dan tidak tahu,” tuturnya.

Kalimantan, lanjutnya, adalah salah satu kota di Indonesia yang nanti terbilang jaya dan luar biasa.

Tigor Otadan menambahkan Kalimantan akan jauh lebih baik ketimbang Jakarta. “Kalimantan luar biasa. Kalau disuruh menilai Kalimantan dengan Jakarta, ya luar biasa Kalimantan. Bangunannya luar biasa. Mungkin banyak orang ngomong-ngomong negatif karena mereka tidak paham,” tukasnya.

Berdasarkan pandangan mata batinnya, Tigor Otadan merasakan pemindahan pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kaltim jauh lebih baik.

Dia pun meminta kepada netizen yang mengecam pemindahan ibu kota agar lebih banyak intropeksi diri.

“Kalau saya melihat itu sah-sah saja. Yang salah bukan lokasinya. Namun, kembalikan lagi pada diri kita masing-masing,” pungkas Tigor Otadan.

Seperti diberitakan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan siap mendukung pembangunan ibu kota negara (IKN) Nusantara baru di Kalimantan Timur.

Beberapa infrastruktur inti dan strategis akan dikerjakan saat sudah mendapat lampu hijau dari Kementerian Keuangan. Terutama kaitannya dengan ketersediaan anggaran.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Mohammad Zainal Fatah, dalam agenda Media Gathering Forwapu di Bogor, Rabu 23 Maret 2022.

Menurut Zainal, pihaknya saat ini sedang mengajukan anggaran kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) senilai Rp46 triliun.

Namun untuk kepastian berapa anggaran yang bakal dipercayakan kepada Kementerian PUPR hingga saat ini belum final.

“Kita sudah melakukan pembahasan dengan teman-teman di Kementerian Keuangan. Saat ini sedang berproses. Kami juga menghitung ada adjustment (penyesuaian) kita lakukan sejak awal dan alhamdulillah teman-temen di keuangan sangat support,” ujar Zainal.

Beberapa infrastruktur inti yang nantinya akan dikerjakan oleh Kementerian PUPR diantaranya adalah jalan, sarana prasarana perairan, jembatan, gedung-gedung pemerintah dan lainnya.

Dalam proses pembangunannya dipastikan akan dikedepankan aspek keberlanjutan. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu menyatakan bahwa infrastruktur di IKN harus berbeda.

Zainal menyatakan desain awal pembangunan infrastruktur IKN nantinya akan dikedepankan dengan konsep smart city.

Untuk itu pemerintah bakal menggandeng Korea Selatan (Korsel) untuk memastikan grand design smart city nantinya benar-benar terwujud di dalam IKN Nusantara tersebut.

“Ya jadi kebetulan Korsel mitra pembangunan kita dan mereka berpengalaman membangun ibu kota baru selain Seoul. Itu salah satu kota yang disebut smart city tentu kita ingin melihat seperti apa. Dia jadi partner diskusi kita,” sambung Zainal.

Ditambahkan Zainal bahwa saat ini pihaknya sudah mulai mengerjakan proyek infrastruktur dasar. Sebagai contoh jalan dan infrastruktur penyediaan air baku.

Pembangunan infrastruktur dasar yang dilakukan oleh Kementerian PUPR di IKN ini dipastikan tidak mengganggu proyek-proyek infrastruktur lain yang sebelumnya telah direncanakan atau yang sedang dikerjakan.

“Kita yang sudah dilakukan jalan. Kan logistik harus ada, nggak mungkin kita mau membangun, namun nggak ada jalan logistiknya. Sehingga yang riil kebutuhan logistiknya kita penuhi dulu,” pungkasnya. (**)

Sumber: FIN.co.id

Comment