Rupiah Menguat 1.02%, Sentuh Nilai Rp17.678 Per Dolar AS Siang Ini

EDISIINDONESIA.id – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/6/2026) siang. Mata uang Garuda bahkan sempat menembus level Rp 17.678 per dolar AS pada perdagangan siang.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 181,50 poin atau 1,02% ke posisi Rp 17.678 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, pada awal perdagangan pagi, rupiah dibuka menguat 82 poin atau 0,46% ke level Rp 17.778 per dolar AS. Penguatan tersebut berlanjut seiring membaiknya sentimen pasar global.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp 17.700 per dolar AS.

Menurut Josua, pergerakan dolar AS cenderung stabil pada akhir pekan lalu karena pelaku pasar menunggu perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen positif muncul setelah kedua negara mengumumkan sejumlah langkah deeskalasi, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, penerapan gencatan senjata, dimulainya negosiasi terkait program nuklir Iran, serta pelonggaran sebagian sanksi terhadap negara tersebut.

Perkembangan tersebut mendorong optimisme investor dan meningkatkan minat terhadap aset negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah terjadi meskipun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Penurunan terutama terjadi pada tenor jangka pendek seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah.

Imbal hasil SBN tenor lima tahun tercatat turun menjadi 7,26%, tenor 10 tahun menjadi 7,42%, tenor 15 tahun menjadi 7,43%, dan tenor 20 tahun menjadi 7,41%.

“Penurunan harga minyak juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap potensi tekanan fiskal,” ujar Josua.

Di pasar obligasi, aktivitas perdagangan juga menunjukkan peningkatan. Rata-rata volume transaksi harian obligasi pemerintah pada pekan lalu mencapai Rp 27,17 triliun, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp 22,54 triliun.

Sementara itu, kepemilikan investor asing pada SBN tercatat berkurang Rp 2,09 triliun menjadi Rp 866 triliun per 11 Juni 2026. Nilai tersebut setara dengan 12,53% dari total surat utang negara yang beredar. (edisi/bs)

Comment