Sambut JJOT #6, Bumi Anoa VW Club Rangkul Pecinta Mobil Klasik Nusantara dan Promosikan Pesona Sulawesi

KENDARI, EDISIINDONESIA.id– Deretan mobil klasik Volkswagen produksi tahun 1960 hingga 1970-an menghiasi Kota Kendari, menyita perhatian warga dan menyemarakkan persaudaraan lintas wilayah.

Momen ini terjadi saat Bumi Anoa Volkswagen Club (BAVC) Sulawesi Tenggara resmi menyambut kedatangan rombongan peserta Jappa Jappa Oto Tua (JJOT) #6, agenda tahunan nasional yang diikuti pecinta VW dari berbagai penjuru Indonesia.

Rombongan peserta JJOT #6 datang dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tengah, dengan total sekitar 27 unit kendaraan dan 80 peserta. Perjalanan panjang ini dimulai dari Makassar, menyusuri rute Toraja, Palopo, Sorowako, Bungku, Morowali, Konawe Utara, sebelum akhirnya tiba dan beristirahat di Kendari.

Setelah itu, perjalanan akan diteruskan ke Kolaka, Kolaka Utara (Lasusua), kembali ke Palopo, dan berakhir kembali di titik awal keberangkatan.

Ketua BAVC, Entis Sutisna, menjelaskan bahwa kegiatan ini jauh lebih dari sekadar hobi atau wisata biasa. Ajang ini menjadi wadah mempererat ikatan persaudaraan antarpecinta mobil tua sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan alam dan destinasi wisata unggulan yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi.

“Kami menjemput saudara-saudara kita dari berbagai daerah. Ini agenda rutin tahunan komunitas VW se-Indonesia. Tujuannya jelas: mempererat silaturahmi, sambil mengeksplor tempat-tempat indah dan potensi wisata di Sulawesi yang luar biasa,” ujar Entis saat menyambut rombongan di Sekretariat BAVC, Kafe R 2000, yang turut dihadiri pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sultra.

Kehadiran mobil-mobil legendaris ini memancing antusiasme warga kota. Banyak yang berhenti sejenak untuk melihat dan mengabadikan momen, mengingat kendaraan jenis ini dulu dikenal sebagai simbol ketangguhan dan keunikan di masanya.

Bagi para penggemarnya, VW memiliki daya tarik tersendiri: desain ikonik, karakter kuat, dan kemudahan perawatan serta ketersediaan suku cadang yang masih terjaga hingga kini.

“Bagi kami, ini bukan sekadar besi dan mesin. Ini kenangan masa kecil, hobi, dan keluarga besar. Di komunitas ini, kami saling bantu—kalau ada kendala di jalan, diperbaiki bersama. Kami menyebutnya saudara tak sedarah,” tambah Entis.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat BAVC, H. Safril, menekankan harapan besar agar keberadaan mobil klasik ini tidak hanya berhenti sebagai koleksi pribadi. Menurutnya, kendaraan bernilai sejarah ini memiliki potensi besar untuk didorong menjadi ikon pariwisata daerah. Berbeda dengan mobil modern yang mudah ditemukan, mobil tua memiliki nilai langka dan unik yang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Kami berharap ke depannya mobil VW ini bisa bertransformasi menjadi kendaraan pariwisata, menjadi ikon yang mempercantik dan mendukung industri wisata di Sulawesi Tenggara khususnya,” ungkap H. Safril.

Dalam penyambutan tersebut, dilakukan pula penyerahan cenderamata sebagai tanda kenang-kenangan antar komunitas. Tak hanya berfokus pada hobi dan pariwisata, BAVC juga berkomitmen menebar manfaat bagi masyarakat.

Ke depannya, setiap kegiatan touring direncanakan akan disisipi aksi sosial, seperti berkunjung ke panti asuhan atau membantu fasilitas ibadah yang membutuhkan.

“Keberadaan komunitas harus memberi dampak positif. Oleh karena itu, kami akan selipkan kegiatan sosial agar kehadiran kami tidak hanya meramaikan jalanan, tapi juga bermanfaat bagi sesama,” pungkas Entis.(**)

Comment