EDISIINDONESIA.id – Menterian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia memaksimalkan segala daya dan upaya untuk mengajak investor asing melakukan investasi di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Langkah itu tentu saja cukup beralasan. Pasalnya, kebutuhan investasi yang diperlukan untuk merampungkan IKN Nusantara tidaklah sedikit. Karena itu, perang investor terutama dari luar negeri sangat dibutuhkan.
Diketahui, proses pembangunan IKN Nusantara di Kalimantan Timur (Kaltim) kini sudah mulai berjalan. Dalam hitungan Kementerian Investasi/BKPM, kebutuhan investasi di IKN sebesar USD32 miliar. Semua itu untuk pembangunan infrastruktur, properti, dan energi terbarukan.
Bahlil Lahadalia menyebut, besarnya kebutuhan investasi itu tentu saja menjadi potensi yang besar bagi investor untuk dapat memanfaatkan peluang investasi tersebut.
Kementerian Investasi/BPKM sendiri berusaha menggaet investor di Tiongkok untuk menanamkan modalnya di IKN. Usaha itu dilakukan dengan menggelar Marketing Investasi Indonesia (MII) yang bertajuk “Investment Opportunities in the New Capital and Downstream Industries” di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada Rabu siang (29/11) waktu setempat.
Kegiatan itu dihadiri oleh 100 peserta dari 46 perusahaan asal RRT dan dibuka oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia serta Duta Besar Indonesia untuk RRT dan Mongolia Djauhari Oratmangun.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membuka pintu lebar bagi para investor untuk berinvestasi ke Indonesia, khusus untuk sektor hilirisasi industri dan pembangunan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara,” kata Bahlil Lahadalia dalam keterangan resminya, Kamis (30/11).
Bahlil mengatakan, pertumbuhan investasi di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Bahkan, di antara negara ASEAN, Indonesia menduduki peringkat terbesar FDI (Foreign Direct Investment) pada bidang industri. Sementara itu, investasi dari RRT dalam tiga tahun berturut-turut terus berkembang naik. Sebagian besar di sektor hilirisasi.
“Kami saat ini juga sedang fokus pada pembangunan IKN dan terbuka dengan investasi, apabila ada yang berminat investasi di sana, akan saya bantu sebisa mungkin,” jelas Bahlil.
Pada kesempatan yang sama, Dubes Indonesia untuk RRT dan Mongolia Djauhari Oratmangun menuturkan, kegiatan itu diharapkan dapat lebih mengenalkan kepada negara lain, khususnya RRT tentang potensi dan kekayaan yang dimiliki Indonesia.
Djauhari menyebut hubungan Indonesia-Tiongkok semakin baik. Hal itu terlihat dari Presiden Jokowi yang telah dua kali berkunjung ke Tiongkok.
“Ini menunjukkan bahwa komunikasi yang lebih dekat akan mendatangkan kerja sama yang lebih erat. Melalui acara ini, kita dapat mengeksplorasi potensi yang ada di Indonesia, khususnya dalam bidang hilirisasi dan investasi di IKN,” ujar Djauhari.
Sebagai informasi, sejak 2018 hingga 2022, realisasi investasi Tiongkok di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 59 persen. Tiongkok berkontribusi terhadap realisasi investasi sebesar USD8,2 miliar pada tahun 2022.
Pada periode Januari hingga September 2023, Tiongkok kembali menempati peringkat kedua dengan realisasi investasi mencapai USD5,6 miliar. Realisasi investasi itu berasal dari sektor industri logam dasar, diikuti oleh sektor transportasi, gudang, telekomunikasi, serta sektor listrik, gas, dan air. (edisi/fajar)
Comment