MUBAR, EDISIINDONESIA.id – Kerusakan jembatan penghubung Dermaga Pelabuhan Tondasi, Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara, (Sultra) hingga kini belum juga diperbaiki.
Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga tahun dan mulai mengganggu aktivitas kendaraan serta kelancaran penyeberangan di wilayah tersebut.
Kepala UPTD Pelabuhan Tondasi, La Ode Rompu, mengatakan kerusakan jembatan saat ini cukup parah sehingga pihak pengelola harus membatasi kendaraan bermuatan berat yang melintas.
Menurutnya, kendaraan yang sebelumnya masih dapat membawa muatan hingga sekitar 10 ton kini hanya diperbolehkan melintas dengan muatan maksimal tiga ton.
“Jembatannya ini sudah tiga tahun mengalami kerusakan. Rusak parah seperti ini sejak tahun lalu. Dengan kondisi sekarang, kami hanya mengizinkan kendaraan bermuatan tiga ton. Itupun kami serba hati-hati,” ujar La Ode Rompu Senin siang 24/08/2026.
Ia menjelaskan, pembatasan tersebut dilakukan sebagai langkah untuk menjaga keselamatan pengguna jasa pelabuhan sekaligus mengantisipasi kondisi jembatan yang semakin mengalami kerusakan.
Kondisi itu juga berdampak terhadap kendaraan bermuatan berat yang sebelumnya menggunakan jalur penyeberangan melalui Tondasi. Kendaraan dengan muatan di atas batas yang ditentukan terpaksa mencari jalur alternatif melalui Pelabuhan Tampo.
“Kalau secepatnya diperbaiki, otomatis kendaraan yang lewat dari Tampo jurusan Kambara ke Tondasi bisa kembali menggunakan jalur ini. Tapi karena dermaganya rusak parah, kendaraan bermuatan berat tidak bisa jalan. Satu-satunya mereka ke Pelabuhan Tampo,” katanya.
Menurut La Ode Rompu, kondisi tersebut membuat aktivitas kendaraan di Pelabuhan Tondasi mengalami penurunan. Kendaraan bermuatan berat yang biasanya melintas kini tidak lagi dapat dilayani seperti sebelumnya.
“Ini akan membuat Tondasi turun aktivitasnya. Kita lihat hari ini, berapa unit mobil? Baru satu unit,” ungkapnya.
Tiga Tahun Rusak, Akses Semakin Terbatas
Kerusakan jembatan dermaga yang telah berlangsung cukup lama membuat akses menuju Pelabuhan Tondasi semakin terbatas.
Sebelum mengalami kerusakan parah, kendaraan masih dapat melintas dengan muatan yang lebih besar. Namun, kondisi jembatan yang semakin memburuk membuat pihak pelabuhan harus menerapkan pembatasan.
Pembatasan tersebut dikhawatirkan semakin menghambat mobilitas masyarakat, kendaraan angkutan, serta distribusi barang yang menggunakan jalur penyeberangan Tondasi.
Kendaraan dengan muatan lebih dari tiga ton kini tidak dapat menggunakan akses tersebut sehingga sebagian harus memilih jalur lain.
Berharap Segera Ada Perbaikan
La Ode Rompu berharap Pemerintah Kabupaten Muna Barat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara segera mengambil langkah untuk memperbaiki jembatan Dermaga Tondasi.
Ia menyebut sebelumnya telah ada penyampaian mengenai rencana perbaikan. Namun, hingga kini pekerjaan tersebut belum juga terealisasi.
“Harapan saya kepada Pemda dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar kiranya secepatnya diperbaiki. Memang sudah dijanjikan kemarin untuk perbaikan dan akan ada perbaikan dalam waktu dekat, tapi sudah menyeberang tahun belum tersentuh,” tegasnya.
Menurutnya, perbaikan jembatan menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas kendaraan dan masyarakat di Pelabuhan Tondasi dapat kembali berjalan normal.
Ia berharap penanganan tidak lagi sebatas rencana, tetapi segera diwujudkan di lapangan mengingat kondisi jembatan yang semakin membatasi aktivitas pelabuhan.
Jika kerusakan terus dibiarkan, akses kendaraan bermuatan berat akan semakin terbatas dan masyarakat maupun pelaku usaha harus menempuh jalur alternatif untuk melakukan aktivitas penyeberangan dan distribusi barang.
Karena itu, percepatan perbaikan Dermaga Tondasi dinilai penting untuk memastikan akses transportasi tetap berjalan aman dan lancar. (**)
Comment