EDISIINDONESIA.id- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menampilkan dua gambaran yang sangat kontras antara perayaan yang digelar Kabinet Merah Putih dan Kabinet Bayangan.
Kontras tersebut terekam jelas dalam unggahan akun Instagram resmi Kabinet Bayangan @kabinetbayangan.id, yang membandingkan mulai dari lokasi penyelenggaraan hingga suasana upacara peringatannya.
“Kabinet Merah Putih menggelar upacara kemerdekaan di Istana Negara. Kabinet Bayangan menggelar upacara kemerdekaan bersama masyarakat adat di Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah,” tulis @kabinetbayangan.id, Senin (17/8/2026).
Foto pertama memperlihatkan upacara Kabinet Bayangan yang menggunakan tiang bendera dari bambu sederhana. Sangat berbeda dengan suasana upacara Kabinet Merah Putih, yang menampilkan momen Presiden Prabowo Subianto sedang dikepung payung oleh sejumlah petugas.
Pada foto kedua, terlihat Presiden Prabowo duduk di kursi, diapit oleh Presiden ke-7 Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Sebaliknya, dalam foto upacara Kabinet Bayangan, para anggotanya tampak berdiri bersama warga.
Foto berikutnya menampilkan kehadiran tokoh publik ternama Nagita Slavina beserta suaminya, yang juga Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, dalam rangkaian upacara di Istana Negara. Sementara itu, di Pegunungan Kendeng tampak hadir tokoh masyarakat adat beserta Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar.
Foto-foto selanjutnya semakin memperlihatkan kemewahan dan kemegahan upacara di Istana Negara, berbeda jauh dengan suasana upacara Kabinet Bayangan yang berlangsung sederhana dan dihadiri masyarakat biasa.
Upacara di Tengah Pegunungan Kendeng
Upacara yang digelar di Pati itu tak hanya dihadiri anggota Kabinet Bayangan dan masyarakat adat, melainkan juga dihadiri oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Konferensi Republik, Forum Intelektual Antar-Disiplin (FIAD), Koperasi Indonesia Baru, serta sejumlah kelompok masyarakat sipil lainnya.
Perwakilan Kabinet Bayangan yang hadir antara lain Bhima Yudhistira (Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran), Media Askar (Menteri Perekonomian), Nabiyla Risfa Izzati (Menteri Sosial dan Layanan Dasar), dan Isnawati Hidayah (Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan).
“Kehadiran kami untuk menjadi bagian dari simpul-simpul gerakan rakyat agar saling terhubung,” ujar Media Askar mewakili Kabinet Bayangan.
Dari jajaran Konferensi Republik turut hadir Yanuar Nugroho, beserta sejumlah akademisi yang tergabung dalam FIAD, antara lain Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti.
“Di tengah situasi negara yang semakin menyulitkan warga, seluruh kelompok harus bersatu dalam setiap perjuangan rakyat,” ungkap Bivitri Susanti.
Sementara itu, Yanuar Nugroho menegaskan, “Terlibat dalam upaya warga memaknai kemerdekaan sebagai keberanian untuk membayangkan dan mewujudkan masa depannya sendiri.”
Hadir pula penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono yang mewakili Koperasi Indonesia Baru serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, beserta Pengurus Masjid Nurul Asri yang turut memberikan dukungan.
Upacara ini digelar sebagai simbol gerakan rakyat yang mengharapkan perubahan dan perbaikan bagi Indonesia, setelah 81 tahun merdeka.
“Upacara ini diselenggarakan untuk mewujudkan Pancasila, tidak sekadar menjadi tulisan semata,” jelas Gunretno.
“Perlu untuk mengilhami bagaimana cara rakyat melihat kemerdekaan, bukan hanya bagaimana negara melihat kemerdekaan,” tambah Zainal Arifin Mochtar.(edisi/fajar)
Comment