KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kendari, Amir Hasan, memimpin rapat evaluasi pelaksanaan intervensi stunting di Kota Kendari yang digelar di ruang rapat Wali Kota Kendari, Balai Kota Kendari.
Dalam sambutannya, Amir Hasan menegaskan pentingnya sinergi antarinstansi dalam menekan angka stunting.
Menurut dia, Pemerintah Kota Kendari berkomitmen menjalankan program intervensi spesifik dan sensitif yang melibatkan berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, sanitasi, dan ketahanan pangan.
“Kerja kolaboratif ini harus kita jaga agar hasilnya bisa berkelanjutan dan berdampak langsung pada keluarga berisiko stunting,” ujarnya.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Kendari, Jahuding, menyampaikan bahwa angka stunting di Kota Kendari mengalami penurunan dari 25,7% menjadi 24,4%.
Ia menyebut hasil tersebut merupakan capaian positif berkat kerja keras seluruh tim lintas sektor di lapangan.
“Hasil survei menunjukkan adanya tren penurunan yang signifikan. Ini bukti nyata bahwa kolaborasi kita mulai menunjukkan hasil,” jelas Jahuding.
Jahuding menambahkan, intervensi penurunan stunting terbagi menjadi dua kategori, yaitu intervensi spesifik oleh Dinas Kesehatan sebesar 30% dan intervensi sensitif sebesar 70% yang melibatkan OPD lainnya.
Berdasarkan data tahun 2024, dari 50.736 keluarga di Kota Kendari, terdapat 12.004 keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting.
Faktor penyebab utama meliputi infrastruktur air bersih dan sanitasi, usia pernikahan yang terlalu muda atau tua, serta jarak kelahiran yang terlalu dekat.
Dinas KB mencatat bahwa dari 12.004 keluarga berisiko, sebanyak 2.054 keluarga telah mendapatkan intervensi melalui bantuan pangan bergizi (MBG) serta pendampingan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Tim ini berjumlah 525 orang dalam 179 kelompok, terdiri atas bidan, kader kesehatan, dan kader KB.
“Mereka bertugas memberikan edukasi dan pendampingan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan calon pengantin,” ujar Jahuding.
Hingga Oktober 2025, tercatat 1.217 keluarga mendapat pendampingan aktif melalui aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil) yang digunakan untuk memantau kesiapan fisik dan mental calon pengantin maupun ibu hamil dalam rangka pencegahan stunting sejak dini.
Dalam penutup paparannya, Jahuding juga melaporkan capaian pelayanan keluarga berencana (KB) di Kota Kendari yang mencapai 79,34% dari total pasangan usia subur, dengan 26.193 peserta aktif.
Ia berharap capaian ini terus meningkat dengan dukungan pemerintah dan masyarakat.
“Upaya ini bukan hanya soal angka, tapi tentang masa depan generasi kita. Mari kita kawal bersama agar anak-anak Kendari tumbuh sehat dan berkualitas,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri oleh Asisten, berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang berkomitmen mendukung percepatan penurunan angka stunting, serta para camat se-Kota Kendari.(**)
Comment