KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran menegaskan komitmennya menjadikan 11 kecamatan dan 11 kelurahan di Kota Kendari sebagai wilayah percontohan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.
Langkah ini merupakan upaya Pemerintah Kota Kendari membangun budaya baru dalam menangani sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga, hingga ke sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan bank sampah.
Komitmen tersebut disampaikan Siska saat berkunjung ke Kelurahan Watu-Watu. Dalam kesempatan itu, ia meninjau langsung aktivitas warga di Lorong Kodya yang berhasil mengelola sampah rumah tangga menjadi sumber ekonomi melalui sistem tabungan bank sampah.
Siska menjelaskan, program ini akan dimulai dari tingkat rumah tangga. Sampah diharapkan tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi dikelola di rumah atau melalui bank sampah yang telah dibentuk di tiap kelurahan.
“Sampah bukan musuh kita, justru sampah adalah uang. Sampah itu kita yang hasilkan, jadi harus kita rawat dan kelola agar bisa kembali memberikan manfaat,” ujar Siska.
Ia juga meminta seluruh camat dan lurah berperan aktif dalam pelaksanaan program tersebut, termasuk menyiapkan lokasi permanen untuk pengembangan bank sampah di wilayah masing-masing.
Khusus untuk Kecamatan Kendari Barat, Wali Kota menugaskan camat agar segera menyiapkan tempat khusus sebagai pusat pengelolaan bank sampah terpadu.
Siska menilai, kebiasaan memilah sampah dari rumah merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan berdaya guna.
Warga diminta memilah sampah organik, anorganik, B3, dan residu agar pengelolaan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, pengelola Bank Sampah RT 2 RW 5 Kelurahan Watu-Watu, Geby Marini, mengungkapkan bahwa program ini telah berjalan lebih dari tiga tahun.
Setiap Sabtu, warga datang menimbang 15 jenis sampah yang mereka kumpulkan. Hasilnya dicatat sebagai tabungan, bukan langsung diuangkan.
“Sampai sekarang sudah terkumpul lebih dari Rp40 juta dari hasil tabungan warga. Setiap dua minggu kami menjual hasil sampah dengan nilai sekitar Rp2 juta. Kalau tidak ada bank sampah, mungkin semua sampah itu akan berakhir di sungai atau di pinggir jalan,” ujar Geby.
Melihat keberhasilan tersebut, Wali Kota Siska meminta agar pengumpulan sampah tidak hanya dilakukan sekali seminggu, tetapi setiap hari, agar masyarakat semakin terbiasa memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Ia juga menugaskan agar Geby Marini dilibatkan sebagai pembicara dan pendamping dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah di 11 kelurahan percontohan.
Siska bahkan menginstruksikan Sekretaris Daerah untuk memberikan honorarium sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya bagi masyarakat.
“Saya minta Bu Geby dimasukkan sebagai narasumber resmi dalam kegiatan sosialisasi nanti. Beri beliau penghargaan yang layak, karena dari 2022 hingga sekarang beliau sudah membuktikan bahwa sampah bisa membawa manfaat ekonomi bagi warga,” kata Siska.
Selain itu, Wali Kota juga menyerahkan satu unit laptop untuk mendukung operasional Bank Sampah Kodya, yang selama ini masih mencatat transaksi secara manual. Ia berharap perangkat tersebut dapat mempercepat proses pendataan dan penimbangan sampah secara digital.
Sebelum peninjauan, Sekretaris DLHK Kota Kendari, Arnaldo, mempresentasikan proses pemilahan sampah yang akan memudahkan pelaksanaan program ini, sehingga sampah yang diangkut ke TPA hanya berupa residu.(**)
Comment