KOLAKA, EDISIINDONESIA.id – Dalam rangka ulang tahun Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ke-61 yang digelar di Kabupaten Kolaka, Gubernur Andi sumangerukka dan Ketua Dekranasda Arinta Andi Sumangerukka belanja kain tenun khas muna yakni (kamooru) saat berkunjung di stand Muna Barat (Mubar).
Terlihat gubernur saat mengunjungi (stand) area kabupaten Mubar yang disediakan oleh penyelenggara untuk memamerkan produk atau layanan dalam rangka hari jadi Provinsi Sultra yang ke-61 didampingi ketua DPRD provinsi Laode Tariala bertempat di lapangan gelora kabupaten kolaka Sabtu malam 26/4/25.
Saat melakukan bincang-bincang dengan penenun, Gubernur ASR dan ketua Dekranasda membeli salah satu produk dari kabupaten muna barat yakni kain tenun tradisional atau kamooru berharga Rp. 1.200.000
Ia mengapresiasi kerajinan tangan daerah Kabupaten Muna Barat dimana proses pembuatan kain dengan cara memasukkan benang (pakan) cara dan benang lungsi yang ditata pada alat tenun dan menghasilkan kain sarung atau semacamnya.
“Ini sangat luar biasa sekali, ini tehnik sudah ada sejak zaman dahulu kala dan menjadi salah satu warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” Kata ASR.
Di momen tersebut gubernur juga memberikan saweran pada tukang tenun sebesar Rp.1.100.000.
Terpisah tukang tenun Waode marsina mengucapkan rasa terimakasih pada gubernur dan Ketua dekranasda telah berkunjung di standnya.
Marsina menjelaskan bahwa kain tenun adalah kain yang dibuat dengan cara memasukkan benang pakan secara melintang pada benang lungsi.
Teknik ini menghasilkan kain dengan berbagai motif dan warna, yang sering memiliki makna filosofis dan budaya yang kuat.
“Kain tenun dibuat dengan cara menyilang benang secara vertikal (lungsi) dan horizontal (pakan) pada alat tenun, benang lungsi dipasang pada alat tenun, kemudian benang pakan dimasukkan secara bergantian di antara benang lungsi,” Jelasnya.
Lanjut Ia, motif pada kain tenun sangat beragam, tergantung pada daerah asal dan tradisi setempat.
Untuk diketahui gubernur dan ketua dekranasda membeli kain tenun tradisional dari muna barat dengan motif kenta nedole dan bhontu potobo, motif ini memiliki makna filosofis, simbol keberanian, keadilan, atau kemakmuran.
Tagline stand muna barat adalah dewan kerajinan nasional daerah yang terampil kreatif dan inovatif untuk mewujudkan “liwu mokesa” yang artinya kampung yang keren.(**)
Comment