KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) telah mengirimkan lima desa untuk mewakili provinsi bertajuk Bumi Anoa pada pemilihan Desa terbaik.
Dalam hal terbaik terkait keterbukaan informasi publik tingkat nasional tahun anggaran 2022. Dimana penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kinerja Pemerintah Desa dalam menjalankan keterbukaan informasi ditengah masyarakat.
Kepala DPMD Sultra, I Gede Panca mengatakan bahwa, berdasarkan jadwal lomba, telah dilakukan desk review pada 2-9 November 2022 lalu, kemudian akan dilakukan pendalaman lapangan/visitasi pada 14-25 November 2022 mendatang.
“Kemudian selanjutnya, pemberian penghargaan apresiasi desa pada 8 Desember 2022 mendatang,” katanya, Jumat (11/11/2022).
Ia mengatakan, kelima desa yang diusulkan merupakan hasil dari usulan semua Kabupaten se-Sultra. Dimana pemilihan dan penentuan desa yang mewakili Sultra merupakan kerjasama DPMD dengan tenaga Ahli pendamping desa yang mencari mana yang cocok untuk diikut sertakan dalam lomba tersebut.
Adapun desa yang terpilih yaitu, Desa Terapung Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah (Buteng) dengan skor nilai 99, Desa Wapia-pia Kecatamatan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi dengan skor nilai 97, Desa Cialam Jaya Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dengan skor nilai 95.
Kemudian, Desa Wanuambuteo Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) dengan skor nilai 90 dan Desa Lantawunua Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana dengan skor nilai 85.
Lima desa itu kata dia, telah memenuhi kriteria diantaranya segi komitmen, dimana telah ada misalnya peraturan desa (perdes) dan peraturan kepala desa tentang keterbukaan informasi publik sekaligus telah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Jadi SDMnya sudah ada serta pejabat pengelolanya, stafnya dan sarananya semua ada,” ungkapnya
“Jadi memang banyak yang diusulkan tetapi setelah kita cermati dengan pendamping desa dan tenaga ahli pendamping dan dinas pemdes kita putuskanlah lima ini paling bagus diantara sekian desa yang ada,” tambahnya.
Ia membeberkan, pada prinsipnya semua desa sudah berusaha terbuka tetapi ada beberapa desa belum mempunyai jaringan internet sehingga susah untuk membuat keterbukaan informasi publik tingkat desa.
“Desa yang belum tersentuh jaringan tersebut sebanyak 146 desa di Sultra,” bebernya.
Sehingga ia berharap, lima desa yang mewakili Sultra tersebut bisa bersaing ditingkat nasional paling tidak bisa menyampaikan bahwa di Sultra desa-desanya sudah mulai terbuka juga.
“Dengan lomba ini mereka terbuka bahwa di Sultra sudah ada upaya-upaya untuk itu dan saya berharap akan menjadi juara karena sebenarnya lima desa ini sudah kita seleksi dengan teman-teman pendamping desa dan ini yang paling layak,” tutupnya. (**)
Comment