EDISIINDONESIA.id- Merdeka Belajar adalah istilah yang hari ini menjadi isu dan topik utama serta bahan diskusi semua pelaku dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Ketika mendengar kata merdeka belajar tentu akan terbesit dipikiran kita tentang kebebasan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentu akan banyak tantangan dalam penerapannya. Tantangan pelaksanaan Kurikulum baru ini kalau ditelaah dan dianalisis lebih jauh sesungguhnya berakar pada bagaimana mengimplementasikannya di satuan pendidikan atau sekolah.
Transformasi dan transisi paradigma kurikulum ini membutuhkan strategi dan cara yang tepat dan efketif. Oleh karen itu tahapan proses yang pertama dan utama yang perlu dilakukan dalam penerapannya adalah adanya proses untuk “Belajar Merdeka”. Artinya, Belajar Merdeka akan memudahkan kita memahami Merdeka Belajar.
Perlu adanya proses belajar dan mengkaji secara komprehensif terkait konsep Merdeka Belajar tersebut. Belajar dapat kita katakan sebagai sebuah proses yang memerlukan kesadaran bagi seseorang yang melakukannya.
Tanpa adanya kesadaran, proses belajar tidak akan memiliki arti dan nilai yang bermakna. Jika seseorang belajar sesuatu tanpa mengetahui manfaat apa dari apa yang dipelajarinya, maka sesungguhnya orang tersebut tidak sedang melakukan proses belajar yang sebenarnya. Mungkin orang tersebut akan mengetahui tentang hal tersebut, tetapi belum tentu dia memahaminya dan mengetahuinya secara holistik.
Dari kata belajar ini, sebenarnya kita diajarkan untuk mengetahui bahwa dalam belajar ada dua unsur yang harus ada yaitu proses dan kesadaran. Proses dan kesadaran inilah yang menjadi lokus, inti dan poros dari kegiatan belajar, dan kedua hal tersebut juga yang semestinya diperhatikan, baik oleh orang yang belajar (siswa) maupun orang yang mengajar (guru).
Sudut pandang lain yang menarik dari konsep Merdeka Belajar ini adalah akan muncul pertanyaan mengapa istilah Merdeka Belajar yang dipilih pemerintah bukan istilah Merdeka Belajar Mengajar untuk menyebut kurikulum ini.
Merdeka Mengajar tidak disebutkan dalam konsep ini. padahal sesungguhnya bahwa dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya berhubungan dengan siswa yang belajar, tetapi juga berkaitan dengan guru yang mengajar.
Hal ini bisa dimaknai bahwa bukan hanya siswa yang perlu belajar, tetapi guru, bahkan orangtua dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya juga dituntut untuk belajar. Belajar dalam artian mereka semua mau berproses dan memiliki kesadaran. Jika semua mau belajar, maka akan muncul sinergi dan kolaborasi yang pada akhirnya lingkungan belajar yang baik dan kondusif pun akan terbentuk sebagai ekosistim belajar yang baik.
Disamping itu kita harus belajar untuk memahami arti dan makna kata “Merdeka” dalam konsep Merdeka Belajar. Makna kata merdeka seharusnya memang akan memiliki makna ketika didahului dengan pemahaman kata belajar sebagai bagian dari sebuah kesadaran.
Kata merdeka memang identik dengan kebebasan, tetapi pemahaman kata merdeka yang didahului dengan pemahaman kata belajar tidak akan mengartikan merdeka sebagai kebebasan tanpa batas. Merdeka seharusnya diartikan sebagai kebebasan yang harus tetap memperhatikan batasan-batasan norma yang ada.
Siswa yang merdeka dalam belajar bukan berarti siswa yang bisa semaunya sendiri untuk menerapkan sistem belajarnya. Begitupun guru yang merdeka, bukan berarti guru bebas untuk melakukan pengajaran dengan cara dan metodenya sendiri tanpa menghiraukan norma dan aturan yang berlaku.
Merdeka belajar seharusnya dipahami sebagai sebuah konsep dimana siswa dan guru memiliki kesadaran dalam pikirannya bahwa siswa dan guru seharusnya bebas dan merdeka dalam menentukan pola pembelajaran sesuai kondisi dan karakterisitk serta kebutuhan sekolah dan peserta didik itu sendiri dengan tetap memperhatikan norma dan aturan yang berlaku. Ketika siswa dan guru, keduanya memiliki kesadaran akan hal ini, barulah merdeka belajar bisa terimplementasikan dengan baik.
Pada akhirnya, konsep “Merdeka Belajar” yang didahului oleh proses pemahaman “Belajar Merdeka” akan membentuk generasi bangsa yang akan memiliki nilai yang unggul secara kompetensi dan mulia secara akhlak dan karakter sesuai tujuan kita berbangsa dan bernegara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan fondasi nilai-nilai luhur Pancasila. Siswa harus menjadi siswa yang tidak akan pernah berhenti belajar dan terus mencintai ilmu pengetahuan sehingga mereka tidak akan pernah kehilangan motivasi dan semangat untuk belajar. Bagi mereka, belajar adalah sebuah โtamasya pengetahuanโ yang terus berjalan tanpa pernah berhenti.
Guru sebagai tenaga pengajar juga harus terus belajar menjadi pribadi yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi untuk memajukan pendidikan dan pengajaran. Guru harus mampu untuk terus menjaga keseimbangan dalam mengajarkan ilmu dan akhlak, pengetahuan dan teknologi, etika dan moral kepada seluruh siswanya.
Orang tua memiliki peran yang penting terhadap tumbuh kembang anak. Merdeka Belajar mengajarkan mereka untuk terus mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan semua proses belajar. Pendampingan orangtua harus memiliki makna pendampingan yang sebenarnya, yaitu orangtua yang memperhatikan, memikirkan, memiliki keprihatinan mendalam terhadap pendidikan yang ditempuh anak-anaknya. Orangtua seperti ini akan terhindar dari menjadi orangtua yang hanya hadir secara fisik untuk anak-anaknya ataupun hanya memenuhi kebutuhan materil anak-anaknya.
Point penting dari ini semua adalah sebagus dan sebaik apapun konsep merdeka belajar ini di kemas, tidak akan bermakna jika seluruh pemangku kepentingan tidak bergerak bersama untuk berkolaborasi dalam pengimplementasiannya, karena jika itu terjadi kurikulum ini hanya akan menjadi jargon dan slogan yang indah dalam dunia pendidikan kita.
Saatnya pendidikan kita kembali ke kodratnya menumbuh kembangkan potensi generasi kita dengan kompetensi pengetahuan yang berdaya saing global dan berakhlak mulia dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi landasan filosofisnya.
Merdeka bangsaku! Merdeka Negeriku!, Majulah Pendidikan Indonesia!
Kurikulum Merdeka untuk Semua. (**)
Penulis: Achmad Djaya Adi
Kepala Sekolah SMAN 1 Loghia
Tulisan ini dikirim oleh sobat edisiindonesia.id, tulisan tersebut sepenuhnya dipertanggungjawabkan oleh penulis
Comment