KOLAKA, EDISIINDONESIA.id— Tokoh Pemuda Babarina, Hamka Bahri, melontarkan kritik keras terhadap PT Ceria Metalindo Prima (PT CMP). Ia menilai pola komunikasi dan sikap perusahaan terhadap aspirasi masyarakat lokal sangat tidak layak, seolah-olah warga di tanah sendiri tidak memiliki hak apa pun.
Hamka menegaskan keberadaan industri di Blok Lapao Pao harus membawa manfaat nyata bagi warga sekitar. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri, sementara kesempatan kerja justru semakin menjauh dari mereka.
“Kami menuntut PT CMP benar-benar memberdayakan masyarakat lokal untuk bekerja. Jangan hanya bicara soal investasi dan industrialisasi, sementara warga di sekitar lokasi justru tidak diberi ruang yang layak,” tegasnya.
Ia menekankan proses rekrutmen harus transparan, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan — membuka peluang luas bagi warga lokal untuk tumbuh bersama wilayahnya sendiri.
Secara khusus, Hamka juga mendesak manajemen PT CMP segera mengevaluasi posisi Human Capital Superintendent. Ia menilai pejabat tersebut menjadi salah satu titik persoalan yang memperburuk hubungan perusahaan dengan masyarakat.
“Kami minta manajemen mengevaluasi dan memberhentikan yang bersangkutan. Kalau tidak mampu menghargai masyarakat lokal, suruh ia angkat kaki dari Blok Lapao Pao!” serunya tegas.
Bagi Hamka, persoalan ini bukan sekadar kesalahpahaman komunikasi. Ketika warga bertanya tentang masa depan dan kesempatan kerja, yang dibutuhkan adalah keterbukaan dan solusi — bukan sikap yang justru memperlebar jarak.
Ia memperingatkan, jika suara warga terus diabaikan, keresahan ini akan tumbuh menjadi kekuatan yang terorganisir.
“Kami pastikan masyarakat akan bergerak. Tetapi gerakan itu akan kami jalur secara konstitusional, menyampaikan aspirasi secara terbuka dan sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Hamka menegaskan masyarakat tidak menolak investasi. Investasi harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap warga, keterbukaan, dan keberpihakan pada pemberdayaan warga setempat.
“Kami tidak meminta perlakuan istimewa.
Kami hanya minta diberi kesempatan bekerja, dihormati, dan didengar. Jangan sampai anak-anak lokal justru menjadi orang terakhir yang merasakan manfaat di tanahnya sendiri,” pungkas Hamka Bahri.(**)
Comment