EDISIINDONESIA.com – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan ditengah adanya wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) ketersediaan stok hewan kurban untuk perayaan Iduladha tahun 2022 masih tergolong aman.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (YSL) mengatakan, Indonesia memiliki populasi sapi sekitar 16 juta. Dari jumlah tersebut, ada 100 ribuan ekor yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).
’’(Sebanyak) 100 ribuan bukan berarti tidak banyak. Banyak! Kita harus khawatir. Tapi, dibanding 16 juta artinya masih tersedia,’’ ungkapnya saat ditemui di kantor Kemenko PMK kemarin (14/6).
Selain itu, kalaupun ternak PMK terdeteksi di suatu desa atau kecamatan, tidak berarti satu kabupaten terpapar. Menurut dia, daerah non-PMK jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan yang terpapar.
Karena itu, dalam menghadapi Idul Adha nanti, daerah-daerah hijau (non-PMK) akan dijadikan sentra pemasok hewan untuk yang masuk zona merah.
Pihaknya tengah menggodok berbagai skenario untuk memastikan ternak yang berpindah daerah itu betul-betul sehat. Juga, menjamin hewan-hewan itu tidak menjadi carrier atau pembawa virus.
YSL mengatakan, kans sembuh bagi ternak yang terpapar PMK cukup menjanjikan. Namun, sembuh pun tetap berpeluang menjadi carrier. Karena itu, pihaknya akan berhati-hati.
Bagi daerah yang sudah terdeteksi PMK atau merah, akses ternak untuk keluar akan ditutup rapat. Tidak boleh ada hewan hidup yang keluar dari daerah tersebut. Kecuali sudah disembelih dan dipantau petugas kesehatan hewan. Sementara itu, hewan yang mati paksa akan langsung dikubur.
Saat ini seluruh akses lalu lintas ternak ditutup. Baik udara, laut, maupun darat. Namun, dia tak memungkiri jika masih ada daerah yang kebobolan. Terutama di jalur darat.
’’Lalu, sekarang banyak spekulan dalam tanda petik yang menakut-nakuti rakyat. Harga Rp 30 juta ditakuti jadi dijual Rp 10 juta. Tapi, kami akan tangani itu semua,’’ paparnya.
Terkait vaksin PMK, YSL menyebut vaksin impor masuk sejak Senin (13/6). Vaksin tersebut mulai didistribusikan. Namun, proses itu memerlukan waktu. Dari penampungan vaksin di Bogor untuk kemudian disebar ke berbagai daerah. Terlebih, proses pengirimannya membutuhkan perlakuan khusus.
’’Hari ini (kemarin, Red) disuntikkan di Sidoarjo. Tentu saja berproses, nggak (bisa) sekaligus,’’ pungkasnya. (**)
Comment