KENDARI, EDISIINDONESIA.id- Forum Kajian Mahasiswa Islam Sulawesi Tenggara (FKMI SULTRA) kembali menegaskan komitmennya memperkuat tradisi pembentukan kader melalui pelaksanaan Perekrutan Anggota Baru (PAB) ke-IX. Mengusung tema “Akselerasi Kekaderan: Manifestasi Intelektual Kader FKMI SULTRA di Era Post-Truth”, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk membangun generasi muda yang tidak hanya andal dalam berorganisasi, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, daya kritis, dan kesadaran kolektif dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Di tengah derasnya arus informasi yang membuat batas antara fakta dan opini semakin kabur, FKMI SULTRA memandang proses kaderisasi sebagai ruang vital untuk melahirkan generasi yang kokoh pemikirannya. Di era pasca-kebenaran ini, kehadiran mahasiswa sebagai kelompok intelektual sangat dibutuhkan untuk menanggapi beragam persoalan yang muncul. Oleh karena itu, kaderisasi tidak hanya bertujuan mencetak anggota yang aktif, tetapi juga yang mampu menjaga tradisi berpikir kritis dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan.
Ketua Umum FKMI SULTRA, Abdul Wahid, menegaskan bahwa kaderisasi adalah ruh organisasi yang wajib terus diperkuat. Baginya, akselerasi kekaderan tidak boleh dimaknai semata sebagai upaya menambah jumlah anggota, melainkan proses membentuk kader berkualitas yang memiliki kedalaman intelektual, integritas moral, serta keberpihakan yang tegas terhadap kepentingan masyarakat luas.
“Era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi mahasiswa. Kebenaran sering kali terdesak oleh opini yang dibangun atas dasar kepentingan dan sentimen tertentu. Karena itulah, FKMI SULTRA hadir untuk menciptakan kader yang tajam nalarnya, berpegang teguh pada tradisi intelektual, serta mampu menjadi penggerak perubahan nyata di tengah masyarakat,” ujar Abdul Wahid.
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa tidak boleh melepaskan identitasnya sebagai agent of change (agen perubahan) dan social control (pengendali sosial). Menurutnya, organisasi mahasiswa harus menjadi wadah dialektika yang melahirkan gagasan-gagasan progresif, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan masalah sosial, kebangsaan, maupun kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua Panitia PAB IX FKMI SULTRA, Ansar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya organisasi untuk melakukan regenerasi secara sistematis dan berkelanjutan. Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, menurutnya, menuntut kehadiran kader yang memiliki kemampuan analisis yang baik dan kebal terhadap penyebaran informasi yang tidak benar atau menyesatkan.
“Tema yang kami usung adalah wujud kesadaran bahwa kaderisasi harus mampu melahirkan insan intelektual yang tidak hanya aktif di lingkungan organisasi, tetapi juga berani berpikir dan berani menyuarakan kebenaran. Nilai intelektual kader FKMI SULTRA harus tercermin dalam sikap, gagasan, dan keberpihakan kami pada kepentingan rakyat,” tegas Ansar.
Bagi Ansar, PAB IX bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan titik awal pembentukan karakter kader yang progresif, responsif, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman. Melalui proses ini, kaderisasi di FKMI SULTRA diharapkan dapat melahirkan generasi yang memiliki semangat pengabdian tinggi serta komitmen kuat dalam memperjuangkan nilai keadilan dan kemajuan.
Dengan terselenggaranya Perekrutan Anggota Baru ke-IX ini, FKMI SULTRA kembali menegaskan eksistensinya sebagai organisasi yang konsisten menjaga tradisi intelektual dan meningkatkan kualitas kader. Berbekal semangat akselerasi kekaderan, FKMI SULTRA optimis dapat melahirkan kader-kader unggul yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial yang tinggi, siap menghadapi segala dinamika di era pasca-kebenaran.(**)
Comment