MUNA, EDISIINDONESIA.id – Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Muna, H. Hasanuddin, secara resmi memberikan klarifikasi terkait isu negatif dari akun palsu yang digoreng di media sosial Facebook beberapa hari ini.
Isu tersebut mulai dari dugaan pungutan liar (pungli) acara perpisahan atau penamatan siswa kelas IX, anggaran pembuatan gazebo yang dinilai tidak transparan, hingga gagasan untuk berqurban jelang Idul Adha.
Mengenai penarikan dana sebesar Rp140.000 per siswa dalam rencana perpisahan siswa kelas IX, Kepsek meluruskan bahwa pihak sekolah sama sekali tidak melakukan pemaksaan, toh rencana anggaran itu akan digunakan buat kepentingan siswa sendiri dan akan diundang orang tuanya.
“Ini murni kemauan siswa-siswi yang akan perpisahan. Karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit, diinisiasilah patungan itu. Tetapi bila orang tua siswa merasa tidak sependapat, ya ditiadakan saja. Sekolah tidak memaksa,” tegas Hasanuddin, Selasa (19/5/2026).
Selain itu, Kepsek juga diserang terkait pembangunan gazebo di lingkungan madrasah. Hasanuddin dituding menutup-nutupi pengunaan anggaran sekolah.
Menanggapi hal tersebut, ia membantah keras dan menyatakan bahwa seluruh program sekolah selalu melewati mekanisme yang legal dan melibatkan internal sekolah.
“Faktanya, kami senantiasa membicarakan program sekolah melalui rapat bersama dewan guru. Jadi tidak benar itu kalau pelaksanaan anggaran tidak diketahui guru.Gazebo ini memang program langsung dari atas,” bantahnya dihadapan para guru.
Ia juga menegaskan, selama masa kepemimpinannya, pengelolaan keuangan sekolah selalu berjalan diatas rel aturan yang berlaku.
“Kalau saya menggunakan anggaran tidak sesuai regulasi, maka pasti ada temuan. Sementara selama saya menjabat, belum ada kesalahan secara administratif yang merugikan negara atau merugikan sekolah secara khusus. Kami bekerja sesuai dengan juknis,” terangnya.
Belum reda dua isu tersebut, Kepsek lagi-lagi dihantam isu pemaksaan iuran qurban internal sekolah dalam rangka hari raya idhul adha.
“Saya menyadari bahwa ibadah qurban adalah wajib bagi yang mampu. Kalau tidak dapat membeli sendiri, maka bisa lewat kelompok. Saya rasa ini hal biasa saja,” ujar Hasanuddin.
“Tapi lagi-lagi, ini sampai muncul perbincangan di sosial media karena ketidakpuasan pihak tertentu. Tetapi, saya juga tidak memaksa. Saya hanya menginisiasi rekan-rekan di sekolah agar kita patungan. Ini lebih ringan. Kalau juga ada yang tidak bersedia, itu hak mereka guru,” sambungnya.
Dibalik isu yang terus digelindingkan, Kepsek menduga ada pihak tertentu yang kemungkinan mendesain hal ini untuk melengserkan posisinya di MTsN 4 Muna.
“Saya di sekolah ini sudah 4 tahun lebih. Mungkin dicarikan jalan agar pindah. Saya rasa beginilah dinamika yang harus kita hadapi. Hanya saja yang patut kita sayangkan selalu digiring di media sosial, padahal ruangan dan rumah saya selalu terbuka apabila ada keluh kesah baik itu dari internal sekolah maupun dari luar. Mari kita dudukan dengan baik, agar tidak ada kegaduhan.” Tutupnya.
Pantauan media, walau diterpa isu kurang sedap, namun aktivitas pembelajaran di MTsN 4 Muna tetap berjalan normal dan kondusif. (**)
Comment