EDISIINDONESIA.id– Pegiat media sosial dan produser film, Denny Siregar, melontarkan analisis tajam mengenai memanasnya tensi antara Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan Iran. Menurut Denny, Trump dinilai terjebak dalam strategi usang yang tidak lagi efektif menghadapi negara dengan sistem pertahanan sekuat Iran.
Denny menyoroti bagaimana Trump, ketika terdesak oleh skandal seperti kasus Epstein, cenderung menggunakan “politik identitas” dengan mengangkat narasi perang agama untuk menggalang dukungan kaum konservatif. Namun, Denny berpendapat bahwa strategi ini mulai tumpul.
“Narasi perang agama dinaikkan untuk menyerang Iran. Tapi warga Amerika tidak bodoh. Ketika harga bensin melonjak dan bahan pangan naik, narasi agama jadi nggak laku. Perut lapar itu lebih nyata daripada retorika,” ujar Denny, Minggu (29/3/2026).
Ia memprediksi bahwa Amerika Serikat berpotensi terbelah, dengan demonstrasi anti-perang yang mungkin disambut oleh aksi tandingan dari pendukung fanatik Trump. Kondisi “perang saudara” opini ini, menurut Denny, justru akan sangat menguntungkan Iran.
Kesalahan fatal Trump, menurut Denny, adalah menyamakan Iran dengan negara-negara seperti Irak, Libya, atau Venezuela. Ia menjelaskan bahwa negara-negara tersebut memiliki sistem pemerintahan yang lemah dan tersentralisasi pada satu sosok pemimpin, sehingga mudah dikuasai ketika pemimpinnya terhantam. “Negara-negara itu, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada sosok Presidennya. Begitu Presidennya dihantam, hancur seluruh pertahanannya,” tegas Denny.
Berbeda dengan Iran, Denny memaparkan bahwa sejak revolusi 1979, rakyat Iran telah dipersiapkan secara mental untuk menghadapi konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel, yang mereka juluki “Setan Besar”.
Doktrin selama puluhan tahun ini menanamkan bahwa melawan “Setan” adalah kebanggaan dan kehormatan tertinggi, memberikan semangat juang yang luar biasa. “Jadi yang mereka lawan itu setan, menurut keyakinan mereka. Bayangkan semangat orang yang merasa sedang berjihad melawan setan,” tambah Denny.
Kesimpulannya, Denny Siregar mengibaratkan situasi ini sebagai “jebakan Batman” bagi Trump. Semakin lama konflik ini berlarut, semakin besar peluang Trump untuk jatuh. Dengan sistem yang tidak bergantung pada satu individu dan rakyat yang haus akan perlawanan, Iran menjadi target yang hampir mustahil untuk “diakuisisi” dengan cara-cara lama.
“Gak mudah kan mengakuisisi Iran?” pungkas Denny menutup analisanya.(edisi/fajar)
Comment