EDISIINDONESIA.id – Pendamping korban yang juga aktivi Senyum Puan, Ade Lativa, memberikan keterangan tegas dalam sebuah wawancara di TV Nasional mengenai kasus dugaan pemerkosaan.
Dia mengungkap bahwa ada ancaman dan intimidasi yang dialami sejumlah korban.
Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menghadirkan bukti kuat berupa saksi-saksi.
Termasuk pemilik homestay tempat kejadian, serta beberapa korban lain yang bersedia memberikan kesaksian.
“Terkait pelaku yang menyebut ancaman tersebut tidak ada, intimidasi tidak ada, pada faktanya kami sudah menghadirkan saksi-saksi termasuk orang dari homestaynya itu sendiri,” ujar Ade dikutip dalam video yang diunggah akun Instagram @senyumpuan (3/12/2024).
Ade mengungkapkan bahwa modus yang dialami para korban menunjukkan pola serupa, menambah keyakinan bahwa kasus ini memiliki dasar yang kuat.
“Modus yang mereka dapatkan itu sama seperti si pelapor,” ungkapnya.
Selain tiga orang yang terlibat langsung, kata Ade, terdiri dari satu sebagai pelapor dan dua sebagai saksi.
“Jadi, tidak hanya sampai di situ sebenarnya. Memang di kasus ini hanya tiga korban terlibat. Satu adalah pelapor, dua adalah saksi,” sebutnya.
Sejauh ini, pihaknya telah berhasil mengidentifikasi total sepuluh korban, termasuk tiga anak di bawah umur yang baru-baru ini ditemukan.
“Tapi di luar tiga orang ini ada banyak juga korban yang sudah berhasil kita identifikasi dan itu totalnya ada sepuluh,” tukasnya.
“Bisa bertambah lagi karena terakhir kita dapatkan ada tiga korban, dan tiga-tiganya adalah usia anak,” sambung dia.
Kata Ade, pihaknya saat ini sementara melakukan pengawalan ketat terhadap kasus tersebut bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Mataram.
“Kami sedang mencoba untuk pressing sama teman-teman LBH Kota Mataram juga,” imbuhnya.
Menanggapi tudingan bahwa laporan mereka merupakan tuduhan palsu, Ade dengan tegas membantah
“Yang bisa kami katakan kita sudah mendatangkan saksi dari homestaynya maupun pihak korban lain,” terangnya.
Ade bilang, jika kedepannya Agus Buntung selaku tersangka ingin melapor balik dengan tudingan dugaan pencemaran nama baik, ia siap pasang badan.
“Ketika akan dilaporkan misalnya pencemaran nama baik, saya juga menjadi bingung. Nama baik mana? Karena ini juga sesuatu yang benar-benar terjadi,” cetusnya.
Dengan adanya saksi dan bukti tambahan, ia berharap kasus ini dapat segera diusut tuntas demi memberikan keadilan bagi semua pihak yang terdampak.
Sebelumnya, peristiwa dugaan pemerkosaan yang menjerat seorang pria disabilitas bernama Iwas alias Agus Buntung semakin terkuak.
Jika sebelumnya publik membela karena terduga pelaku tidak memiliki tangan, setelah terkuaknya kronologi dan bertambahnya jumlah korban, kini publik pun berbalik arah.
Dilansir dari instagram media.lombok, terungkap bahwa Agus tidak hanya melakukan tindak kejahatan tersebut sekali, melainkan telah memperkosa lebih dari satu wanita menggunakan cara-cara manipulatif.
Kejahatan Agus yang diketahui tidak memiliki tangan, terbongkar setelah polisi mendalami pengakuan para korban. (edisi/fajar)
Comment