Jangan Salah, 15 Agustus 1945 Juga Bersejarah! Baca Ini Biar Tahu

EDISIINDONESIA.id – Bulan Agustus seluruh rakyat Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Peristiwa bersejarah tersebut menyimpan banyak catatan sejarah.

Namun jangan salah, tanggal 15 Agustus merupakan hari yang juga memiliki sejarah penting.

Jepang Kalah Perang Dunia

Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal ini, usai kalah setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika Serikat pada 6-9 Agustus 1945 dalam Perang Dunia II.

Raja Jepang, Kaisar Hirohito terpaksa menyerah terpaksa kepada Sekutu melalui radio Gyokuon-hoso (Siaran Suara Kaisar). Menyerahnya Jepang pada bulan Agustus 1945 menandai akhir Perang Dunia II.

Otomatis, Jepang juga kehilangan otoritas pada negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia.

Para pemuda Indonesia pun memanfaatkan kekalahan Jepang itu untuk mempersiapkan kemerdekaan. Akhirnya tepat pada 17 Agustus 1945, Ir Soekarno membacakan Teks Proklamasi untuk menandakan Kemerdekaan RI.

Tepat ditanggal ini, Golongan muda dan Soekarno terlibat debat sengit.

Golongan muda antara lain Sukarni, Ahmad Soebarjo, Wikana, dan Chaerul Saleh, mendesak Soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Dikutip dari laman setneg.go.id, Sukarno bahkan diancam dengan kata-kata yang dilontarkan oleh para pemuda, seperti yang digambarkan Lasmidjah Hardi (1984:58) dalam tulisannya.

“Kita harus segera merebut kekuasaan!” tukas Sukarni berapi-api.

“Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!” seru mereka bersahutan.

Wikana pun juga mengancam Soekarno dengan pernyataan “Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari”.

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Sukarno emosi dan berdiri menuju Wikana sambil berkata “Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!”

Hatta kemudian memperingatkan Wikana bahwa Jepang merupakan masa lalu bangsa Indonesia.

“Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?”, tanya Soeharto pada golongan pemuda.

Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro.

Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945

Saat diculik oleh golongan muda ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Sukarno sempat kembali didebat oleh Sukarni mengapa harus memutuskan untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17. Sukarno lantas menjawab “Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17”.

Lantas Sukarni bertanya kembali “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?”. Lalu, Sukarno menjawab “Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Sukarno menjelaskan dengan berkata “Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat. Oleh karena itu, kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia”, sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61)

Comment