Wali Kota Blitar: Istri Diancam Ditelanjangi

EDISIINDONESIA.id – Satu per satu misteri perampokan di rumah dinas (rumdin) Wali Kota Blitar Santoso Jawa Timur (Jatim) berhasil diurai polisi.

Pada Selasa (13/12), Polda Jatim memastikan bahwa perampok yang menyekap dan melumpuhkan wali kota, istri, dan tiga penjaga rumdin berjumlah lima orang.

Para perampok itu membawa parang dan senjata api (senpi). Kendati ciri-ciri pelaku sudah dikantongi, identitas detail belum didapat.

Dirreskrimum Polda Jatim Kombespol Totok Suharyanto menyampaikan, pihaknya sudah memeriksa tujuh saksi. Berdasar keterangan yang didapat, perampok yang beraksi dipastikan lima orang.

’’Ciri-cirinya sudah didapat dan sedang dikembangkan,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, segala kemungkinan sedang didalami. Termasuk kabar bahwa pelakunya orang dekat Santoso. Namun, dia enggan berandai-andai lebih jauh.

Totok mengatakan, pihaknya harus menemukan petunjuk tambahan agar kasusnya bisa segera terungkap.

’’Fokusnya mengidentifikasi pelaku,” ungkapnya.

Upaya itu sudah dimulai sesaat setelah kejadian. Dia bersama jajarannya dan petugas laboratorium forensik (labfor) menyisir rumdin untuk mendapatkan jejak pelaku.

’’Dari olah TKP kita dapatkan beberapa sidik jari. Saat ini sedang dipelajari siapa pemiliknya,” jelasnya.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto menambahkan, pelaku menjalankan aksinya secara terstruktur. Mereka seolah sudah terlatih. ’’Informasinya, ada yang membawa senpi,” terangnya.

Dirmanto mengatakan, penjaga rumdin tidak curiga dengan kedatangan pelaku karena mobil yang dipakai berpelat merah. Bahkan, salah seorang penjaga sempat membukakan gerbang.

’’Begitu di dalam, beberapa pelaku di dalam mobil langsung keluar dan mengancam dengan senjata yang sudah disiapkan,” paparnya.

Pelaku bisa melumpuhkan tiga penjaga rumdin dengan mudah. Lalu, masuk ke rumah dinas lewat pintu samping. Berdasar keterangan saksi, salah seorang pelaku berambut cepak.

Namun, identitasnya sejauh ini masih gelap. ’’Ya, ada beberapa ciri-ciri yang sudah dikantongi. Semoga secepatnya ada titik terang,” katanya.

Informasi yang dihimpun, para perampok diduga melarikan diri ke arah Malang hingga Surabaya. Kapolres Blitar Kota, AKBP Argowiyono tak menampik kabar tersebut. Menurut dia, mobil para perampok yang berpelat merah terindikasi mengarah ke utara.

’’Ini baru berdasar dugaan menurut pergerakan. Kemungkinan bisa juga ke arah Surabaya,” ujarnya kemarin.

Dia menyebutkan, pihaknya bakal berkoordinasi dengan polres di lingkup Jawa Timur untuk membuntuti kawanan perampok itu. ’’Insya Allah perkembangannya akan positif. Akan kami update kalau sudah tertangkap,” jelasnya.

Sementara itu, beredar video di media sosial (medsos) sebuah mobil yang diduga milik pelaku. Tayangan berdurasi kurang dari semenit tersebut menunjukkan sebuah mobil Innova hitam berhenti di pintu masuk rumdin wali kota Blitar. Mobil diduga dari arah timur itu kemudian masuk hingga terparkir di utara pos jaga.

Argo membenarkan bahwa mobil itulah yang digunakan pelaku untuk beraksi. Namun, pelat merah yang terekam kamera CCTV tersebut belum bisa dipastikan keasliannya.

Meski begitu, Argo sempat menyebut bahwa kemungkinan nomor polisi (nopol) itu palsu. Artinya, pelaku bisa saja mencoba mengecoh polisi. ’’Sudah ditindaklanjuti Inafis dan Labfor Polda Jatim,” sambungnya.

Pada bagian lain, Dirreskrimum Polda Jatim Kombespol Totok Suharyanto kemarin berada di Mapolresta Blitar. Dia mengatakan, ada beberapa temuan yang didapat setelah olah tempat kejadian perkara (TKP). Salah satunya soal ponsel Wali Kota Santoso yang ditemukan di tempat sampah salah satu ruangan rumdin.

Namun, Totok belum bisa memaparkan kenapa pelaku enggan membawa kabur ponsel tersebut. Saat ini ponsel itu sedang diidentifikasi inafis untuk menemukan sidik jari pelaku. ’’Sudah kami bawa ke laboratorium. Semoga ini jadi petunjuk identitas pelaku,” ujarnya.

Olah TKP di rumdin wali kota selesai Senin lalu pukul 17.00. Meski begitu, polisi tak berhenti memeriksa saksi. Total ada tujuh saksi yang sudah diperiksa. Di antaranya, 3 personel satpol PP yang berjaga saat kejadian, wali kota Blitar beserta istri, ditambah warga di lokasi kejadian yang kali pertama menolong wali kota.

Pihaknya tak mengelak soal pelaku yang membawa kabur rekaman CCTV. Karena itu, kepolisian berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Blitar untuk mendapatkan alternatif kamera pengintai di sudut lain.

’’Timsus gabungan labfor, inafis, dan lidik saat ini masih bekerja. Perkembangan akan kami sampaikan,” tuturnya.

Sebagaimana diberitakan, rumdin Wali Kota Santoso disatroni komplotan perampok pada Senin (12/12) pukul 03.00. Pelaku terpantau menggunakan minibus dengan pelat merah.

Kawanan penjarah itu masuk dan menyekap tiga personel satpol PP. Tak hanya itu, Santoso dan istri juga disekap dan diancam bakal dilukai menggunakan parang. Pelaku lalu kabur dengan membawa uang Rp 400 juta beserta sejumlah perhiasan.

Pengakuan Wali Kota

Wali Kota Santoso kemarin bertemu dengan sejumlah awak media. Dia memastikan kondisinya dan sang istri, Feti Wulandari, sudah membaik. Jawa Pos Radar Blitar pun berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan Santoso.

Dia menceritakan kronologi perampokan tersebut. ’’Peristiwanya sekitar pukul 03.00. Istri saya masih salat Tahajud karena memang rutin,’’ katanya.

Sekitar pukul 03.05, pintu kamar Santoso digedor dari luar. Feti lantas membangunkan Santoso. ’’Saya pikir ada gempa atau lindu. Tiba-tiba pintu sudah dijebol,” terangnya.

Menurut Santoso, ada tiga orang yang masuk lewat pintu kamar sebelah timur, dekat kolam. Mereka langsung menyergap Santoso dan istri. ’’Saya disuruh tengkurap. Mulut dan mata dilakban. Tangan dan kaki saya diborgol. Istri saya juga diperlakukan sama,’’ terangnya.

Namun, Feti tidak diminta tengkurap, tetapi disuruh duduk di ranjang.

Seorang perampok lalu meminta Santoso menunjukkan lokasi brankas. Namun, Santoso mengaku tidak punya brankas. ’’Brankas ini kan untuk simpan uang, sementara uang yang saya simpan tidak ada. Ya, kalau uang sedikit dari hasil kegiatan buka acara, honornya saya simpan di tas, lalu ditaruh di lemari,” jelasnya.

Namun, para pelaku tidak percaya Santoso tidak punya brankas. Mereka lalu memukuli Santoso. Dia ditendang dan dipukul di bagian kaki dan tubuh. ’’Mereka pakai sepatu brok. Postur tubuh kekar,’’ terangnya.

Para pelaku bahkan mengancam akan menelanjangi Feti. ’’Saya bilang, silakan ambil tas di lemari. Akhirnya lemari diobrak-abrik, termasuk sedikit perhiasan istri saya. Kalung yang dipakai istri saya sehabis salat juga dilepas. Gelang, cincin juga,” paparnya.

Setelah mengobrak-abrik lemari, seorang pelaku sempat menanyakan kamar anak Santoso. Beruntung, anak-anak Santoso tidak berada di rumdin. Para perampok lantas menanyakan ruang CCTV. ’’Saya jawab ada di ruang kerja,’’ katanya. Para perampok lalu menuju ruang kerja Santono. Semua kabel diputus.

Para pelaku kabur sekitar pukul 03.30. Santoso lalu berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada yang merespons. ’’Ternyata satpol PP sudah dilumpuhkan lebih dulu sebelum ke kamar saya,’’ terangnya.

Apakah Santoso mengenali para pelaku? ’’Saya tidak tahu karena mata dilakban. Kalau penodongan senjata api ke saya, tidak. Tapi, salah satu dari mereka bawa parang, sekitar 40 sentimeter. Yang diancam istri saya,” jelasnya.

Mengenai uang Rp 400 juta yang digondol pelaku, Santoso membenarkan. Menurut dia, uang itu merupakan honor berbagai acara yang dia kumpulkan. Rencananya, uang itu dipakai Santoso untuk membayar utang kampanye. ’’Setelah akhir tahun saya berencana mencicil utang itu. Tapi akhirnya keduluan (dirampok, Red),’’ terangnya.

Dia meminta kasus perampokan itu tidak dikaitkan dengan masalah politik. ’’Saya menilai ini murni kriminal. Sementara saya berpikir begitu saja. Tinggal bagaimana investigasi yang dilakukan kepolisian, kami tunggu,’’ ungkapnya. (edisi/jawapos)

Comment