MUNA, EDISIINDONESIA.id – Tim peneliti kolaborasi dari Institut Seni Budaya Bandung, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari mengekspos hasil penelitian di kawasan situs budaya Gua Liangkabori dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2024-2026), pada Rabu (14/10/2026).
Tim dengan keahlian pada bidang arkeologi, humaniora, tradisi lisan dan seni pertunjukan itu mengungkapkan kekaguman atas kekayaan budaya yang tergambar diberbagai dinding gua Liangkabori maupun pada puluhan lokasi lain dalam kawasan cagar tersebut.
Peneliti Prof. Dr. Hj. Een Herdiani mengungkapkan ditahun 2024 setelah mencari referensi terkait gua Liangkabori ternyata banyak hal menarik, diantaranya terdapat 43 lokasi kaitannya dengan kebudayaan, sesuai data terakhir yang disampaikan oleh para peneliti maupun pemerintah setempat.
Guru Besar Sejarah Tari dan mantan Rektor ISBI Bandung tersebut menceritakan tim kolaborasi mendatangi dan menelusuri 43 titik lokasi dengan berbagai tantangan medan yang dilalui.
Dalam ekspedisi budaya yang mereka lakukan dari 43 lokasi itu, Prof Een mengaku tercengang dan takjub atas berbagai motif lukisan yang tergambar pada dinding-dinding gua maupun yang terdapat pada tebing-tebing sekitar.
“Saya sebagai orang tari, saya tertarik dengan berbagai sikap gerak dari lukisan itu seperti menari gerakan Ewa Wuna dan tari Ngibi. Dimana tari dan gerakan ini merupakan identitas atau tradisi masyarakat Muna secara turun temurun. Sudah ada sejak dahulu kala,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah sebulan pada tahun 2024 melakukan penelitian dari 43 lokasi itu, mereka kembali menemukan 5 lokasi baru yang tidak pernah dijangkau oleh orang lain.
Kemudian pada 2025, tim kembali selama 18 hari dan menemukan hingga 66 lokasi. Di 2026, jumlahnya bertambah menjadi 72. Keseluruhan berada di kawasan gua Liangkabori.
“Seluruh gambar, lukisan yang terdapat adalah kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Ini warisan leluhur yang wajib dijaga, dikunjungi dan dilestarikan,” Sambungnya.
Sebagian penggiat budaya, Prof. Een ingin masyarakat tidak hanya mengenal tetapi memaknai apa yang disampaikan dari setiap pesan pada gambar atau lukisan budaya tersebut.
Ia berharap ke depan ada kebijakan yang berpihak pada perlindungan. Apalagi situs ini merupakan warisan budaya artistik simbolik dengan keunikan sebagai galeri lukisan raksasa karena saking luasnya. Ada ribuan gambar dan menjadi unik di dunia.
Sementara itu, Dr. Lutfi Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, menjelaskan awal keterlibatannya karena penasaran dengan lukisan layang-layang di gua Muna.
“Cukup menarik, perubahan jumlah lokasi itu menunjukkan sebarannya ada di mana-mana. Dulu saat senior saya Pak Kosasi datang baru 9 lokasi. Sekarang 72 baru di Liangkabori, ini belum di semua Pulau Muna,” ungkapnya.
Selain itu, Arkeolog dari UHO, Amaluddin Sape menyoroti kondisi fisik lukisan gua. Berdasarkan pengamatan 2024-2026 di 72 lokasi Liangkabori dan 2 lokasi di Tanjung Laiworu dan Bone Kacintala, banyak kerusakan ditemukan.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Selain banyak yang terkelupas, unsur-unsur bahan untuk membuat gambar mulai terlepas dari medianya. Aktivitas pembakaran pembukaan lahan oleh masyarakat juga memberi efek. Asap bakaran menghasilkan karbon yang menempel di dinding goa dan tebing, menutupi lukisan yang ada.” Ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Muna, LM Masrul menyatakan Pemerintah Daerah Muna berkomitmen dengan terus mengembangkan kawasan cagar budaya gua Liangkabori sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.
Diantaranya akan dilakukan penataan sarana dan prasarana pendukung termasuk jalan menuju kawasan situs budaya tertua di dunia tersebut. Apalagi mendapatkan dukungan dari Kementerian Pariwisata RI.
“Atas arahan Pak Bupati, bagaimana hasil-hasil penelitian itu kita implementasikan di kegiatan ekonomi kreatif. Yang terpenting adalah bagaimana hasil penelitian bisa mengangkat harkat, martabat dan nilai Kabupaten Muna,” tegas Masrul.
Ia menyampaikan rencana Pemda ke depan dengan kegiatan diseminasi hasil-hasil penelitian BRIN terkait kawasan cagar budaya gua Liangkabori.
“Nanti kami akan digitalisasi semua motif-motif yang ada di 72 gua yang sudah ditemukan. Harapannya akan di-HAKI-kan semua motif demi kemajuan dan pendapatan asli daerah.” Pungkasnya. (**)
Comment