UHO Dorong Transformasi Digital UMKM Desa Sorue Jaya untuk Perkuat Ekonomi Masyarakat

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHO sosialisasi digitalisasi pemasaran dan penguatan usaha produktif untuk mendorong transformasi UMKM di Desa Sorue Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.

EDISIINDONESIA.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo (UHO) mendorong transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Sorue Jaya, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, melalui digitalisasi pemasaran dan penguatan usaha produktif.

Program bertajuk “Model Transformasi UMKM Desa Berbasis Digitalisasi dan Penguatan Usaha Produktif dalam Mendukung SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan)” tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar mampu mengelola potensi ekonomi lokal sekaligus memperluas akses pasar.

Kegiatan ini menyasar pelaku UMKM yang bergerak pada sektor perikanan, pertanian olahan, kuliner, dan perdagangan kecil yang sebagian besar masih dikelola dalam skala rumah tangga.

Ketua Tim Pengabdian, Dr. La Ode Suriadi, SE., M.Si, mengatakan bahwa Desa Sorue Jaya sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, khususnya karena karakteristik wilayahnya sebagai kawasan pesisir dan kuatnya aktivitas masyarakat pada sektor perikanan.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat bukan semata-mata keterbatasan sumber daya, melainkan bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan nilai tambah lebih besar.

“Masyarakat Sorue Jaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, terutama dari sektor perikanan dan berbagai usaha yang tumbuh di sekitarnya. Yang perlu kita dorong adalah kemampuan masyarakat untuk mengolah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah, memiliki pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga,” ujar La Ode Suriadi, Senin (31/8/2026).

Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang ditemukan tim adalah pola pemasaran UMKM yang masih cenderung konvensional dan terbatas pada pasar lokal.

Kondisi tersebut membuat produk masyarakat belum optimal menjangkau konsumen di luar desa. Karena itu, tim memperkenalkan pemanfaatan media sosial, marketplace, katalog digital, Google Maps Business Profile, serta berbagai perangkat digital sederhana yang dapat digunakan pelaku usaha sesuai dengan kapasitasnya.

Digitalisasi, menurutnya, tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya memindahkan promosi dari cara konvensional ke media sosial, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan cara pelaku UMKM mengelola dan mengembangkan usahanya.

“Kami ingin pelaku UMKM memahami bahwa digitalisasi bukan sekadar membuat akun media sosial atau marketplace. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk mengenali pasar, membangun komunikasi dengan konsumen, memperkuat merek, meningkatkan transaksi, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” jelasnya.

Oleh karena itu, kegiatan pengabdian tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi dirancang melalui tahapan pelatihan, praktik, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi.

Pendekatan tersebut mencakup digital marketing, pembukuan digital sederhana, pengembangan usaha produktif, diversifikasi produk, branding, dan strategi peningkatan omzet.

Selain pemasaran, persoalan pengelolaan keuangan usaha juga menjadi perhatian utama tim. Sebagian pelaku UMKM masih mencampurkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga dan belum melakukan pencatatan penerimaan serta pengeluaran secara sistematis.

Menurut La Ode Suriadi, kondisi tersebut dapat menyulitkan pelaku usaha mengetahui secara pasti perkembangan omzet, biaya, arus kas, dan keuntungan yang diperoleh.

“Kalau pelaku usaha tidak mengetahui berapa sebenarnya penerimaan, biaya dan keuntungan usahanya, maka akan sulit bagi mereka mengambil keputusan bisnis secara tepat. Karena itu, kami mendorong pencatatan keuangan yang sederhana dan mudah diterapkan, termasuk dengan memanfaatkan perangkat digital yang sudah dimiliki masyarakat,” katanya.

Program pengabdian ini juga dinilai memiliki momentum yang strategis karena Desa Sorue Jaya sedang mengalami perkembangan infrastruktur ekonomi melalui Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Keberadaan fasilitas seperti cold storage, pabrik es, dermaga, cool box, dan sarana pendukung lainnya membuka peluang bagi peningkatan kualitas, kontinuitas, serta jangkauan pemasaran hasil perikanan.

Dalam laporan kegiatan disebutkan bahwa pada 2026 KNMP Sorue Jaya telah memasuki tahap uji coba operasional dan mendukung pengiriman sekitar 8 ton ikan berkualitas ke luar daerah.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk mengambil peran lebih besar pada sektor hilir melalui pengolahan, pengemasan, diversifikasi, dan pemasaran produk berbasis hasil perikanan.

Menurut La Ode Suriadi, pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan peningkatan kapasitas masyarakat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas.

“KNMP memberikan fondasi penting dari sisi produksi dan infrastruktur perikanan. Tetapi infrastruktur saja tidak cukup. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan mengolah, mengemas, memasarkan, dan mengelola hasil usaha secara profesional. Di sinilah kami melihat pentingnya penguatan UMKM dan digitalisasi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi desa,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi fondasi awal bagi terbentuknya ekosistem UMKM desa yang lebih produktif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu memanfaatkan potensi ekonomi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, tim UHO mendorong agar program tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Keberlanjutan program diarahkan melalui pembentukan Kelompok Usaha Produktif Desa Sorue Jaya, penunjukan kader ekonomi desa, monitoring pendapatan secara berkala, serta integrasi program dengan agenda pemberdayaan desa.

Dengan pendekatan tersebut, transformasi UMKM diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku usaha, penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat, perluasan pasar, dan peningkatan nilai tambah produk lokal.

“Harapan kami, UMKM di Sorue Jaya tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan menjadi kekuatan ekonomi desa. Pada akhirnya, peningkatan kapasitas dan pendapatan masyarakat inilah yang menjadi kontribusi nyata kegiatan pengabdian terhadap pencapaian SDGs 1, yaitu Tanpa Kemiskinan,” pungkas La Ode Suriadi. (**)

Comment