PKS Beberkan Alasan Tidak Oposisi di Era Prabowo

EDISIINDONESIA.id – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan hubungan politik dengan Presiden Prabowo Subianto telah terjalin cukup lama dan berlangsung secara baik, meski sempat berada di posisi yang berbeda dalam kontestasi politik.

Hal itu disampaikan politikus PKS Haru Suandharu yang mengungkap komunikasi antara PKS dan Prabowo, termasuk ketika Prabowo memutuskan bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurut Haru, Prabowo terlebih dahulu berkomunikasi dengan PKS sebelum menerima tawaran menjadi Menteri Pertahanan di pemerintahan Jokowi. Komunikasi tersebut dinilai menunjukkan hubungan yang terbuka antara Prabowo dan PKS.

“Waktu beliau mau gabung di pemerintahan Jokowi kan ngobrol,” ujar Haru di kanal Youtube Hendri Satrio, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia mengatakan, setelah Pilpres 2019, Prabowo secara terbuka menyampaikan kepada PKS mengenai keputusannya bergabung dengan pemerintahan Jokowi.

“Pak Prabowo pamit ke PKS, ‘Saya mau gabung dengan Pak Jokowi’,” katanya.

Haru menuturkan, saat itu PKS tetap memilih berada di luar pemerintahan. Keputusan tersebut diambil melalui Majelis Syura sebagai bentuk komitmen untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.

“Pak Prabowo gentle. Dengan kita ngobrol, ‘Saya mau gabung’. Terus PKS lewat Majelis Syura bilang kita tetap oposisi. Dia nanya, ‘Enggak apa-apa PKS sendirian?’ Enggak apa-apa, kan harus ada check and balances,” jelasnya.

Menurut Haru, perbedaan posisi politik tersebut tidak membuat hubungan PKS dengan Prabowo menjadi buruk. Ia menegaskan tidak pernah ada permusuhan personal maupun komunikasi negatif antara kedua pihak.

“Makanya enggak ada cerita jelek kita tuh dengan Pak Prabowo,” tegasnya.

Haru juga menyinggung sikap PKS ketika dirinya menjadi bagian dari tim kampanye Anies Baswedan pada Pilpres 2024. Menurutnya, meski PKS berada di kubu yang berbeda dengan Prabowo, tidak pernah ada serangan personal maupun narasi buruk yang diarahkan kepada Prabowo.

“Waktu saya juga jadi ketua tim kampanye Anies, enggak ada satu kata pun yang keluar dari tim kampanye kita begini begitu. Karena kita bareng setahun kok,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketika PKS akhirnya memutuskan bergabung dengan koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran, keputusan tersebut juga dilakukan tanpa meninggalkan persoalan dengan Prabowo.

“Waktu kita memutuskan dukung Anies di 2024 kita juga baik-baik. Makanya ketika kita gabung koalisi enggak ada perasaan bersalah,” katanya.

Haru menilai hubungan baik yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi salah satu alasan PKS tidak melihat alasan untuk terus berada di posisi oposisi setelah Prabowo menjadi Presiden.

“Kita berkawan baik, dukung beliau 10 tahun, sekarang jadi Presiden. Kenapa jadi harus oposisi?” pungkasnya. (edisi/rmol)

Comment