Dampak PHK Ribuan Karyawan PT GNI Mulai Terasa, Aktivitas Ekonomi Masyarakat Sekitar Menurun

EDISIINDONESIA.id – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.900 karyawan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) mulai berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan tambang Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang ikut merasakan dampak dari berkurangnya aktivitas ekonomi setelah ribuan pekerja PT GNI terkena PHK.

Salah satunya dialami Astuti (42), pedagang nasi kuning di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Morowali Utara. Ia mengaku omzet dagangannya turun drastis setelah banyak karyawan memilih meninggalkan daerah tersebut karena terdampak PHK.

Astuti mengenang kondisi ketika operasional perusahaan masih berjalan normal. Saat itu, dagangan nasi kuning miliknya bisa ludes hingga 30 kilogram setiap pagi dengan omzet mencapai Rp 5 juta-Rp 6 juta per hari.

“Alhamdulillah kalau dahulu (sebelum PHK) tiap pagi lima pemanas (nasi) besar itu habis. Satu pemanas itu enam kilogram, berarti 30 kilogram habis setiap pagi,” ungkap Astuti kepada Beritasatu.com, Selasa (11/8/2026).

Namun, kondisi tersebut berubah setelah gelombang PHK melanda PT GNI. Penurunan jumlah pekerja di kawasan tersebut membuat pembeli berkurang sehingga penjualan nasi kuningnya ikut merosot.

“Sekarang paling banyak 15 kilogram habisnya,” ungkap Astuti.

Astuti berharap kondisi perusahaan segera membaik, sehingga kembali membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Menurutnya, meningkatnya aktivitas perusahaan juga akan membantu menggerakkan kembali roda perekonomian warga di sekitar kawasan tambang.

PT GNI melakukan PHK terhadap 1.900 karyawan pada Agustus 2026. Berdasarkan keterangan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Morowali Utara, proses PHK tersebut dimulai pada Rabu (5/8/2026) dan rampung pada Sabtu (8/8/2026).

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari efisiensi atau rasionalisasi tenaga kerja yang dilakukan perusahaan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan angka pengangguran, sekaligus menekan aktivitas ekonomi di kawasan lingkar tambang.

Kepala Disnakertrans Morowali Utara Yartikanis Lakawa menjelaskan, PT GNI kembali melakukan rasionalisasi tenaga kerja karena operasional perusahaan saat ini hanya menjalankan satu smelter dan satu unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Untuk sekarang ini yang beroperasi hanya satu smelter, yaitu smelter 3 dan di bagian PLTU. Rasio penggunaan tenaga kerja untuk satu smelter dengan sembilan tungku itu satu berbanding 4.000. Jadi kalau satu smelter itu ditambah PLTU, idealnya mempekerjakan 4.200 karyawan,” jelas Yartikanis.

Yartikanis menambahkan, PT GNI sebelumnya juga telah melakukan efisiensi terhadap sekitar 1.800 karyawan sepanjang 2025. Dengan tambahan 1.900 pekerja yang terkena PHK pada Agustus 2026, total pekerja PT GNI yang terdampak PHK dalam kurun waktu dua tahun mencapai sekitar 3.700 orang. (edisi/bs)

Comment