Didesak Mundur Karena Dituding Terafiliasi Zionis, Gus Yahya Buka Suara

EDISIINDONESIA.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya kini jadi sorotan publik. Itu setelah isu pemakzulan terhadap dirinya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan untuk meminta Gus Yahya mundur dalam tiga hari sejak keputusan rapat tersebut dibuat atau dinyatakan diberhentikan sebagai Ketua Umum PBNU.

Alasan utama di balik pemakzulan itu karena dia dinilai terafiliasi dengan zionis. Atas dasar itu, Gus Yahya mengaku sudah terbiasa difitnah.

Tuduhan beraliansi dengan zionis seusai bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dugaan ini disebut menjadi menjadi pemicu keretakan di tubuh PBNU.

“Saya tidak mau berprasangka. Sebelum ini (isu pemakzulan terhadap dirinya) itu rumor sudah ndak karu-karuan,” tuturnya usai menghadiri Rakor PWNU se-Indonesia di Surabaya, Minggu dini hari (23/11).

Tak hanya itu, kakak kandung dari Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu juga diterpa tudingan ‘memakan’ uang organisasi senilai Rp900 miliar. Kendati demikian, Gus Yahya tak ingin bertindak gegabah.

“Saya sudah dengar macam-macam tuduhan kepada saya, begini begitu, saya makan duit Rp900 miliar, saya macam-macam itu sudah keluar. Tetapi saya tidak mau bertindak atas dasar rumor atau prasangka,” lanjutnya.

“Itu saja, ya. Kalau jelas (bukan rumor) baru saya mau ambil sikap (dan mengomentari). Kalau nggak jelas saya nggak mau, saya enggak berani. Apalagi mencatut Nahdlatul Ulama,” ucap Gus Yahya.

Terkait tudingan terafiliasi dengan zionis, Gus Yahya mengakui bahwa dirinya pernah bertemu dengan jajaran pemerintah Israel, termasuk Perdana Menteri, Benjamin Netanyahu pada 2018 silam.

“Saya itu tahun 2018 sudah pernah pergi ke Israel. Saya bertemu Netanyahu, saya bertemu dengan Presiden Israel, saya bertemu dengan berbagai elemen di sana di dalam berbagai forum,” tuturnya.

Pertemuan tersebut tidak ia tutupi. Semua orang sudah mengetahui sebelum Muktamar 34 tahun 2021 di Lampung. Dalam forum tersebut, Gus Yahya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

“Lalu tahun 2021 Muktamar, Ketua Cabang dan PWNU memilih saya. Mereka sudah tahu saya sudah pernah ke Israel dan sudah bertemu dengan Netanyahu, (tetapi) mereka (tetap) memilih saya,” imbuh Gus Yahya.

Sebagai informasi, isu pemakzulan Gus Yahya dari jabatannya sebagai Ketum PBNU mencuat setelah Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang berlangsung di Hotel Aston City, Jakarta pada Kamis (19/11).

Dalam rapat yang dihadiri oleh 37 dari 53 Pengurus Harian Syuriyah PBNU tersebut disimpulkan bahwa Gus Yahya harus mundur atau diberhentikan. Salinan risalah rapat tersebar luas di media sosial.

Risalah yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar itu memuat lima poin. Pada poin terakhir, ditegaskan bahwa Gus Yahya diwajibkan mundur dari jabatan ketum PBNU segera dalam tiga hari.

“Jika dalam waktu 3 hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” bunyi risalah rapat tersebut.

Di Surabaya, Gus Yahya juga menegaskan bahwa dirinya tak akan mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Sebab, jabatan tersebut merupakan amanah dari para PWNU pada Muktamar ke-34.

“Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur, karena saya mendapatkan amanat dari Muktamar ini untuk 5 tahun. Akan saya jalani selama 5 tahun. Insya Allah saya sanggup,” pungkas Gus Yahya. (edisi/fajar)

Comment