Kendari Hadapi Krisis Air Bersih, Infrastruktur Tua dan Kebocoran Jadi Kendala Utama

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melalui Dinas PUPR mengikuti rapat koordinasi penyediaan air baku bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV di Kendari.

Pertemuan ini membahas persoalan krisis air bersih yang masih menghantui warga Kendari.

Kepala BWS Sulawesi IV Kendari, Muhammad Harliansyah, mengungkapkan bahwa ketersediaan air bersih di Kota Kendari menghadapi tantangan serius meski potensi sumber air permukaan cukup melimpah.

Kendala utama terletak pada distribusi yang belum maksimal akibat kerusakan jaringan, infrastruktur tua, serta tingginya ketergantungan masyarakat pada air tanah.

“Seharusnya kebutuhan utama masyarakat dipenuhi dari air permukaan, sementara air tanah hanya menjadi alternatif terakhir,” jelas Harliansyah.

Ia memaparkan, data menunjukkan ketidakseimbangan besar antara kapasitas produksi dan air yang sampai ke masyarakat.

Dari kapasitas 410 liter per detik di salah satu intake, hanya 173 liter per detik yang terdistribusi. Artinya, sekitar 70 persen hilang karena kebocoran jaringan maupun pengambilan ilegal.

Selain itu, beberapa intake air baku yang dibangun dengan investasi besar tidak lagi berfungsi optimal. Intake Mata Bondu, misalnya, berhenti beroperasi sejak 2023 akibat kerusakan kubikel listrik dan ketiadaan instalasi pengolahan air (WTP) yang sesuai.

Harliansyah menambahkan, upaya revitalisasi juga terkendala sinkronisasi antarinstansi.

Sejumlah jaringan pipa telah terbangun, namun tidak bisa digunakan karena belum terhubung dengan sumber air baku atau fasilitas pengolahan.(**)

Comment