KENDARI, EDISIINFONESIA.id- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menetapkan tiga lokasi untuk pelaksanaan debat publik pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur. Debat pertama akan berlangsung di Kota Baubau pada Sabtu (19/10/2024), dilanjutkan di Kabupaten Kolaka pada Jumat (1/11/2024), dan terakhir di Kota Kendari pada Sabtu (23/11/2024).
Pengamat Demokrasi dan Politik Sultra, Andi Awaluddin Maruf., S.IP, M.Si, menilai penentuan lokasi debat tersebut sebagai terobosan menarik dari KPU Sultra karena mewakili regional wilayah. Namun, ia menekankan bahwa substansi debat dan para panelis lebih penting, di mana isu-isu yang diangkat harus mewakili problematika daerah.
Andi Awaluddin melihat bahwa para Calon Gubernur (Cagub) Sultra memiliki reputasi dan pengalaman yang mumpuni di bidang pemerintahan. Cagub nomor urut 01, Ruksamin, memiliki pengalaman yang cukup mempuni di pemerintahan, khususnya di tingkat kabupaten karena pernah menjabat sebagai Bupati selama dua periode.
Cagub nomor urut 02, Andi Sumangerukka, merupakan tokoh yang aktif di dunia militer dan birokrasi, sehingga memahami dinamika pemerintahan. Cagub nomor urut 03, Lukman Abunawas, merupakan birokrat senior yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur (Wagub) Sultra mendampingi Ali Mazi. Sementara Cagub nomor urut 04, Tina Nur Alam, telah dua periode menjabat sebagai anggota DPR RI.
“Saya pikir kapasitas masing-masing calon sudah terukur dalam problematika government atau dinamika pemerintahan,” ujar Andi Awaluddin, Dosen Fisip Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari, Kamis (17/10/2024).
Andi Awaluddin menyatakan bahwa penilaian terhadap siapa yang akan menguasai debat masih terlalu subjektif karena debat belum berlangsung. Ia yakin semua calon gubernur telah mempersiapkan diri dengan matang, dibantu oleh konsultan atau pendamping yang berpengalaman.
“Karena kan sudah mempunyai konsultan atau pendamping, punya mentor atau pelatih masing-masing untuk menyampaikan hal-hal yang urgent bagaimana metode debat saya pikir mereka sudah belajar lah. Cuma hal-hal seperti itu sebenarnya persoalan teknis saja,” jelasnya.
Andi Awaluddin berharap agar panelis yang dihadirkan dalam debat mewakili stakeholder atau kelompok-kelompok kepentingan yang dapat memberikan masukan kepada calon kepala daerah. Ia juga berharap panelis tidak hanya berasal dari kalangan akademisi, tetapi juga aktivis mahasiswa, guru, dan tokoh masyarakat lainnya.
“Intinya semua stakeholder yang mempunyai kepentingan terhadap kemajuan wilayah Sultra, baik itu tokoh masyarakat tokoh adat juga kalau perlu diundang sebagai panelis. Sebagai bagian dari partisipasi, panelis itu kan tidak mesti diukur dari sisi akademiknya saja,” bebernya.
Terakhir, ia berharap agar debat dapat mewakili problematika dan keadaan masyarakat Sultra yang sesungguhnya, bukan hanya formalitas.
“Tapi solusi apa yang dihadirkan, tawaran solusi janji yang ketika itu nanti mereka paparkan, masyarakat bisa menagihnya ketika salah satu diantara calon itu terpilih,” tutupnya. (**)
Comment