KOLAKA, EDISIINDONESIA.id — Peristiwa memalukan terjadi di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP). Sekelompok orang tidak hanya memalang jalan mobilisasi utama proyek, tetapi juga melontarkan kata-kata kasar kepada personel TNI yang sedang bertugas — menyebut mereka “Tentara Bajingan”.
Tokoh masyarakat adat di Sulawesi Tenggara menilai tindakan ini bukan sekadar menghina prajurit, melainkan meruntuhkan wibawa Presiden Prabowo Subianto di mata para investor dunia.
Ketua Tamalaki Wuta Kalosara Sultra, Mansiral Usman, menyatakan penghinaan terhadap TNI sama dengan menghina Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“TNI lahir dari rakyat, untuk rakyat. Mereka bagian tak terpisahkan dari kita. Kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan para pahlawan TNI. Mengatai mereka begitu sangat melukai hati seluruh bangsa,” ujar Mansiral.
Ia menjelaskan, kehadiran TNI di kawasan PSN bertugas menjaga kedaulatan negara sekaligus melindungi investasi asing di PT IPIP. Di sana banyak tenaga kerja asing dan investor luar negeri melihat langsung keadaan. Jika TNI dihina begini, nama baik bangsa, negara, dan Presiden ikut tercemar di mata dunia.
Sikap TNI yang tetap tenang justru mendapat pujian. Ketua Tamalaki Anoa Sultra, Syamsul Rusdin, mengatakan meski dimaki, prajurit tetap bertindak tertib dan sabar — membuktikan TNI sungguh abdi negara dan abdi rakyat.
“Ratusan ribu rakyat menggantungkan hidup dan masa depan di proyek ini. Rakyat tak bermimpi kaya, hanya bermimpi cukup makan untuk menyambung hidup,” ungkap Syamsul dengan haru.
Bersama puluhan organisasi adat Tamalaki, warga adat menyatakan siap pasang badan berdiri bersama TNI, Polisi, dan Pemerintah Daerah menjaga keamanan kawasan PT IPIP. Mereka bertekad menjadikan proyek itu kebanggaan bangsa dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
“Kepentingan rakyat, negara, dan bangsa wajib kita perjuangkan. Kita jaga bersama, demi masa depan kita semua,” tegas Syamsul.(**)
Comment