EDISIINDONESIA.id-Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meminta publik tak mempertentangkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sekolah rusak. Menurutnya, sekolah rusak ada sebelum adanya MBG.
Hal tersebut diiungkapkan menanggapi rusaknya sekolah di Grobogan, Jawa Tengah. Sekolah itu belakangan jadi buah bibir.
“Dulu nggak ada MBG, kan sekolah itu ada yang rusak, bolong, apa semua,” Kata Sudaryono saat konferensi pers di Gedung BGN, Jumat (31/7/2026).
Dia mengatakan, ketika Prabowo menjadi presiden, lalu ada MBG, tidak serta merta sekolah rusak. Pada dasarnya sudah rusak.
“Itu kan nggak karena terus kemudian Pak Prabowo jadi presiden, ada MBG, terus sekolahnya mendadak jadi rusak, kan nggak. Dulu ke mana?” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah malah menyalurkan intensif. Meski program MBG terus berjalan.
Dia memberi contoh, seperti pupuk, revitalisasi infrastruktur, dan sebagainya.
“Terus sekarang ada MBG, sudah diambil untuk MBG, sekarang ada revitalisasi irigai 12 T, 14 T, 14 T sampai dengan 5 tahun ini diberesin semua,” ucap Sudaryono.
Dia juga memberi gambaran dari kasus guru honorer yang belum mendapatkan gaji layak. Menurut dia, hal itu telah terjadi sejak sebelum adanya MBG.
“Bahkan oleh Pak Presiden kan sudah dipastikan sampai dengan 2 juta ya kan gitu. Dulu kan nggak. Nah sekarang ada MBG, katanya dipotong untuk MBG, sekarang kita benahi semua,” imbuhnya.
Dia pun mengajak seluruh pihak tidak selalu mengaitkan masalah yang terjadi hari ini dengan program MBG. Sudaryono menyebut pemerintah terus berupaya melakukan pembangunan.
“Maksud saya, kita memang banyak yang harus dibenahi, betul, banyak yang harus dibenahi,” ungkapnya.
“Memang tugas pemerintah adalah membenahi hal-hal yang memang harus dibenahi, pendidikan, kesehatan, gizi termasuk bagaimana pilar demokrasi media, kita benahi semua,” sambung Sudaryono.
Berikut naskah yang telah diedit dengan bahasa yang lebih rapi, mengalir, dan bergaya berita.
Judul:
BGN Minta MBG Tak Dijadikan Kambing Hitam Sekolah Rusak: Kerusakan Sudah Ada Sejak Dulu
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, meminta masyarakat tidak mengaitkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan persoalan sekolah rusak. Menurutnya, kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan sudah terjadi jauh sebelum program MBG dijalankan.
Pernyataan tersebut disampaikan Sudaryono saat menanggapi sorotan publik terhadap kondisi sebuah sekolah rusak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang belakangan menjadi perhatian luas.
“Dulu belum ada MBG, sekolah yang rusak, atap bolong, dan berbagai persoalan itu juga sudah ada,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Gedung BGN, Jumat (31/7/2026).
Ia menegaskan, kerusakan sekolah tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang meluncurkan program MBG.
“Itu bukan karena Pak Prabowo menjadi presiden lalu ada MBG, kemudian sekolahnya mendadak rusak. Kerusakan itu sudah ada sebelumnya. Dulu ke mana?” ujarnya.
Sudaryono menekankan bahwa pemerintah tetap menjalankan berbagai program pembangunan secara bersamaan, meskipun Program MBG terus berjalan. Menurutnya, anggaran negara juga dialokasikan untuk berbagai sektor prioritas lainnya.
Ia mencontohkan program revitalisasi infrastruktur, pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi, serta pemberian subsidi pupuk yang tetap mendapat perhatian pemerintah.
“Sekarang ada MBG, tetapi revitalisasi irigasi juga tetap berjalan dengan anggaran belasan triliun rupiah hingga lima tahun ke depan. Semua terus dibenahi,” katanya.
Selain itu, Sudaryono menyinggung persoalan kesejahteraan guru honorer yang selama ini menjadi sorotan. Menurutnya, masalah tersebut juga sudah berlangsung sebelum Program MBG diluncurkan.
“Bahkan oleh Pak Presiden sudah dipastikan ada perhatian kepada sekitar dua juta guru. Dulu belum ada. Jadi jangan kemudian semua dianggap dipotong untuk MBG. Pemerintah justru sedang membenahi semuanya,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Sudaryono mengajak seluruh pihak agar tidak selalu mengaitkan setiap persoalan yang muncul dengan Program Makan Bergizi Gratis. Ia menegaskan pemerintah memiliki komitmen untuk terus memperbaiki berbagai sektor secara bertahap.
“Kita memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Itu adalah tugas pemerintah, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, hingga penguatan pilar demokrasi dan media. Semua akan terus diperbaiki,” tutupnya.(edisi/fajar)
Comment